Geopolitik Energi

December 29, 2008

TEWASNYA BHUTTO: DEMI KEPENTINGAN GEOPOLITIK ENERGI?

Sekitar satu tahun lalu di Pakistan, 27 Desember 2007, hempasan peluru menembus leher Benazir Bhutto, dan kemudian disusul dengan serangan bom bunuh diri dari seorang yang tak dikenal (BBC). Dunia terhentak dengan tewasnya Bhutto, terutama Amerika Serikat (CNN). Pihak Gedung Putih menekankan walau Bhutto tewas, reformasi demokrasi di Pakistan harus tetap dijalankan, yakni pemilu Pakistan yang sebentar lagi tiba. Sepertinya menarik apa yang ditekankan oleh Amerika Serikat (AS) kepada Pakistan.

Bhutto, sebelum peristiwa serangan

Bhutto, sebelum peristiwa serangan

Sekedar untuk diketahui bersama, kembalinya Bhutto dari pengasingan ke Pakistan berkat sponsor AS. Bhutto kembali ke Pakistan pada 18 Oktober 2007, setelah bersepakat dengan Musharraf dimana semua tuduhan dan tuntutan atas korupsi terhadap dirinya dibatalkan. Sebelumnya, pada 27 Januari 2007, Bhutto sempat diundang datang ke Gedung Putih. Ini menandakan bahwa AS menekan Musharraf agar Pakistan terbuka lebar untuk Bhutto. Media AS ternama, Washington Post malah terang-terangan menyebutkan bahwa AS adalah broker (baca: makelar) kembalinya Bhutto ke Pakistan. “The U.S. came to understand that Bhutto was not a threat to stability but was instead the only possible way that we could guarantee stability and keep the presidency of Musharraf intact,” kata Mark Siegel. Siegel adalah pelobi untuk Bhutto di Washington dan banyak menyaksikan kesepakatan di balik diplomasi soal Bhutto. Jika pihak Washington menganggap bahwa Bhutto adalah bukan sebagai ancaman untuk stabilitas kawasan (baca: stabilitas kepentingan AS), lalu Musharraf dianggap apa dong?

Musharraf sejak tahun 2001 (peristiwa 9/11) dikenal yang melibatkan Pakistan sebagai sekutu dekat AS dalam perang melawan terorisme.  Musharraf pun dicaci maki di dalam negerinya sendiri; dituding sebagai boneka AS. Keikutsertaan Pakistan dalam memerangi terorisme sebenarnya adalah hal yang lucu.   Jauh hari sebelum peristiwa 9/11, Pakistan sebenarnya diduga terlibat dalam mensupport logistik hingga pelatihan anggota Taliban di masa Uni Sovyet menduduki Afghanistan. Tak heran, para pelaku peristiwa 9/11 pun banyak yang berasal dari Pakistan.Pelakunya adalah ISI (intelijen Pakistan) dan CIA. (Saya pikir BAKIN juga terlibat mendukung pada masa-masa itu; mengirim orang-orang Indonesia untuk dilatih di Pakistan). Targetnya sama: mengincar Afghanistan demi kepentingan energi  (penting klik KOMPAS). Inilah yang diketahui oleh Bhutto dan suaminya. Bhutto bahkan menuding Musharraf terlibat dalam rangkaian setting intelijen tersebut. Memang agak aneh, padahal Bhutto sendiri dapat kembali ke Pakistan dengan support AS pula. Tapi, itulah politik.

Tidak Ada Teman Abadi, Kecuali Demi Kepentingan Energi

Kedekatan Pakistan pasca 9/11 2001, membuat Pakistan mendapat kucuran dana luar biasa dari AS (whitehouse), diantaranya kucuran dana sebesar 1,5 Miliar USD untuk bidang militer tahun 2005-2009. Belum pula pada tahun 2004, Pakistan dianggap sebagai Major Non-NATO Ally oleh George W. Bush. Itu masih belum seberapa, karena masih banyak kucuran dana yang diterima oleh Pakistan.

Tapi, sesuai sifat alam, angin bisa berubah haluan. Begitu juga sikap politik Pakistan.  Musharraf yang melakukan kudeta militer tahun 1999, mulai dekat dekat dengan Iran dan China. Pakistan ternyata mulai membuka diri untuk proyek bersama pipa gas dari Iran.

rencana jalur pipa Iran-Pakistan-India

Pakistan membuka diri atas rencana  pembangunan pipa gas dari Iran. Pipa itu akan melewati Iran sepanjang  1100 Kilometer, 1000 Kilometer di wilayah Pakistan, dan 600 Kilometer di wilayah India.  Rencana pembangunan jalur pipa ini telah berjalan melalui rangkaian panjang perjanjian antara Iran, Pakistan, dan India sejak tahun 1993.  Pembangunan ini diprediksi memakan biaya sekita 7 Triliun Dollar AS.

Iran sebagai negara produsen gas terbesar di dunia mempunyai kepentingan murni bisnis dan geopolitik untuk pipa ini.  Sementara itu,  Pakistan dan India membutuhkan pasokan energi. Saat ini India mengalami kebangkitan ekonomi, dan tentunya membutuhkan pasokan energi yang tak sedikit.

Musharraf and Rice

Rencana besar ini ternyata membuat Gedung Putih tak suka. Pada tahun 2005-2006, Condolezza Rice sempat melakukan negoisasi dengan sekutu dekatnya (Pakistan dan India) dan menawarkan alternatif saat kunjungannya ke Asia, agar rencana pembangunan pipa gas tak berjalan.

Pembangunan pipa gas tersebut tentu membuat Washington khawatir.  Washington khawatir atas manfaat geopolitik ekonomi yang dipetik oleh Iran, dan khawatir pembangunan pipa tersebut akan berlanjut ke wilayah China. Seperti diketahui, China sebagai naga Asia sedang bangkit; pertumbuhan ekonomi yang melonjak tentu membutuhkan pasokan energi. Washington melihat jelas bahwa China juga berkepentingan dengan pembangunan pipa tersebut.

Yang jelas, tahun ini (2008) Washington sempat merasa berang dan kecolongan dengan lobby Musharraf dengan China. Apalagi jika lobby mengenai pembangunan pipa tersebut. Di dalam pengembangan proyek besar tersebut tentu sangat membutuhkan dana/invetasi besar; China tentu sangat berminat.

Walaupun Washington berang, rencana tetap berjalan. Tapi, kali ini dengan India menunda keinginannya; karena desakan Washington. Rencananya, pembangunan ini akan tetap dilanjutkan dan selesai pada tahun 2011-an.

Bhutto, Pakistan, AS, dan China

Melihat uraian di atas, Benazir Bhutto sepertinya tidak memperhitungkan kondisi “permainan” geopolitik kawasan yang sedang berkembang.  Kepentingan nasional Pakistan (jelas ada), Iran, dan China telah jelas masuk di Pakistan. Bhutto sepertinya menjebloskan dirinya sendiri dan didorong AS untuk masuk jurang kematian.

Apalagi kedatangan Bhutto dengan jelas disponsori oleh AS mengatasnamakan “demi demokrasi.” AS seperti terlihat dengan jelas memanfaatkan Bhutto untuk pengamanan kepentingan geopolitiknya. Banyak pihak pun tidak nyaman melihat kedatangan Bhutto di Pakistan. Sebut saja: di internal Pakistan sendiri, Iran, dan China. Akhirnya, permainan pun dimulai, dengan nyawa manusia menjadi tumbalnya. AS juga terlibat.

Kematian Bhutto memang menyedihkan. Tapi, lebih menyedihkan jika terdapat banyak kepentingan yang menyebabkan Bhutto tewas.*****

Tulisan lain terkait:

Beberapa Referensi:

Advertisements

November 14, 2008

Harga Minyak Tinggi Telah Usai?

Filed under: minyak,Oil — merdeka1978 @ 1:06 pm
Tags: , , , , ,

Harga minyak saat ini (bulan ini) sebenarnya sedikit aneh. Harga minyak dunia yang sejak tahun 2001 cenderung naik dashyat dan sempat heboh mencapai di atas USD 100 per barrel pada tahun 2008, malah pada saat ini turun dan sempat menjadi USD 94 per barrel.

Memang terhampar banyak jawaban; mulai faktor geopolitik hingga hitungan ekonomi. Para ekonom dunia melihat dari sisi tingkat konsumsi minyak masyarakat Amerika Serikat yang cenderung turun, dikarenakan krisis kredit yang melanda Amerika Serikat. Pengetatan keuangan perusahaan Amerika, dan ancaman dan realisasi PHK menghantui dan melanda jutaan warga Amerika. Akhirnya, warga Amerika pun diet konsumsi bahan bakar. Seperti diketahui, konsumsi minyak Amerika Serikat tertinggi di dunia, terutama untuk sektor transportasinya. Nah dengan adanya ”diet” warga Amerika, para ekonom dunia nyatakan konsumsi minyak pun melemah, dan berakibat harga minyak dunia pun melorot. Pedagang komoditas juga beralasan menunggu rencana bailout dari pemerintah AS yang sedang disetujui Senat, yang berakibat harga perdagangan komoditas minyak pun melemah.

Tapi, ini tetap membuat kita heran. Apalagi di dunia saat ini, sebagian penduduk muslim di dunia sedang rayakan idul fitri. Budaya mudik di beberapa negara seperti negara-negara melayu, India, dan Pakistan masih kental. Konsumsi minyak pun mau tak mau seharusnya juga ikut naik. Tapi, tetap saja tidak banyak berpengaruh ke harga minyak dunia. Biasanya nehhhh naik; itu kebiasaan dari tahun ke tahun.

Penasaran kita ini bukan berarti kita berharap harga minyak dunia naik lagi (walau akan naik lagi…entah kapan). Banyak pihak yang memperoleh keuntungan dengan harga minyak dunia yang sedang turun, seperti negara pengimpor (seperti Indonesia yang mungkin rasa pusingnya sedikit berkurang) dan perusahaan minyak itu sendiri / oil company. Lho kok oil company juga? Dengan harga minyak dunia yang turun, ongkos yang dikeluarkan mereka untuk eksplorasi dan eksploitasi juga akan tereduksi. Selama ini oil company, walau tetap untung, tetap terbebani biaya-biaya peralatan yang cenderung naik; seperti sewa rig pengeboran yang berebutan antar oil company.

Yang jelas, salah satu hipotesis penyebab harga minyak dunia turun adalah adalah SPR. Strategic Petroleum Reserve (SPR) milik AS per 2 Oktober 2008 telah menghimpun sekitar 702 juta barrel! Cukup untuk 2-3 bulan konsumsi. Betapa bodohnya kita ketika baru mengetahui hal ini. Ini jelas merupakan cadangan teraman yang mereka miliki. AS berencana mengisi SPR mereka hingga 1 Miliar barrel, walau Presiden Bush punya impian hanya sebatas 700 juta barrel saja. AS mengisi SPR ini melalui produksi domestic (Royalty In Kind) maupun impor.

Dengan cadangan sebesar ini, secara logika sangat dasar, krisis ekonomi yang sedang berlangsung di Paman Sam diduga hanya sementara. Hitungan sementara bisa 1-2 tahun. Walau prosedur pengeluaran cadangan yang rumit berdasar persetujuan Departemen Energi AS (DOE), cadangan dapat dikeluarkan setiap saat. Salah satu kandidat Presiden AS Barrack Obama sempat mendesak agar 70 juta barrel dikeluarkan dari SPR untuk mengatasi harga BBM yang dirasakan tinggi oleh warga AS dan yang mempertinggi inflasi.

Yang jelas, secara analogi, krisis ekonomi Amerika saat ini hanya mengerem sementara konsumsi energi masyarakat AS, untuk dapat mengisi SPR memenuhi target waktu. Sebagai informasi, diharapkan pada tahun 2025, SPR milik AS dapat beroperasi secara optimal.

SPR bukan hanya dimiliki oleh AS. SPR juga dimiliki oleh negara-negara maju lainnya. Tapi, yang paling berpengaruh terhadap dunia, selain AS, adalah China dan India . Pada tahun 2004, China mulai membangun SPR yang diharapkan mampung menampung 100 juta barrel, yang dapat sebagai cadangan selama 1 bulan. Target untuk memenuhi SPR ini diharapkan terpenuhi pada tahun 2009. Secara jangka panjang, China menargetkan mengembangkan SPR yang dapat menampung 400 juta barrel, sebagai cadangan strategis selama 3 bulan.

China merupakan negara dengan konsumsi minyak terbesar kedua setelah AS, dikarenakan pertumbuhan ekonominya yang meroket dan membutuhkan pasokan energi yang tak sedikit. Istilah orang: the red capitalist. Sebesar 40 persen pasokan minyaknya berasal impor, terutama dari Timur Tengah, Afrika, dan Rusia.

Selain China , India memiliki SPR sebesar 40 juta barrel. Cukup untuk kebutuhan konsumsi 2 minggu. Selama ini, 70 persen pasokan minyak India berasal dari impor. Selain China dan India , Rusia juga berencana membangun dan mengisi SPR sebesar 78 juta barrel. ( Indonesia  ? cadangan mungkin hitungan minggu doang…kasian)

Akan Naik Terus

Setelah Senat AS setuju rencana bailout krisis kredit di AS, ini jelas mengamankan posisi SPR milik AS saat ini dan akan terus ditambah isinya. Dan hal ini membuat rencana pengeboran di wilayah Alaska terus digodok, dan rencana intelijen AS untuk masuk ke wilayah Asia Tengah dan Selatan, serta eks negara Uni Sovyet akan dilanjutkan (walau “sedikit gagal” terhadap Georgia).

Dengan tetap mengisi SPR dan AS sebagai negara konsumen terbesar minyak dunia, tentu akan tetap mempengaruhi harga minyak dunia. Negara produsen, hingga broker pasar komoditi tentu akan berlomba bermain.

Belum pula ditambah negara-negara pintar seperti China dan Rusia berlomba tetap berusaha mengisi SPR-nya ( Indonesia termasuk negara pintar gak ya?) akan menambah dinamika kenaikan harga minyak dunia. Sempat terdapat asumsi, pengisian SPR di beberapa negara ini relevan dengan naiknya harga minyak dunia, dikarenakan tidak sesuai dengan konsumsi sebenarnya (dalam istilah ekonomi).

Harga minyak dunia akan naik terus, karena belum lagi ditambah ketegangan geopolitik energi di dunia, seperti di Nigeria , Iran , dan Venezuela .

Jadi, jangan khawatir, harga minyak dunia akan naik lagi kok…harga emas turun? Tenang…entar naik lagi kok….

Indonesia siap gak? Tau ah gelap!

U.S. STRATEGIC PETROLEUM RESERVE INVENTORY

CURRENT SPR INVENTORY AS OF  October 02, 2008

SWEET

SOUR

TOTAL

279.8 million bbls

422.4 million bbls

*

702.2

SPR OIL MOVEMENTS in Millions of Barrels

MONTH

EXCHANGE BARRELS

DRAWDOWN BARRELS

NET MOVEMENT

Feb-08

0.5

0.5

Mar-08

1.6

1.6

Apr-08

1.1

1.1

May-08

2.8

2.8

Jun-08

1.7

1.7

Jul-08

1.3

1.3

Aug-08

0.0

0.0

Sep-08

(4.80)

**

(4.80)

Oct-08

0.0

0.0

Nov-08

0.0

0.0

Dec-08

0.0

0.0

Jan-09

2.02

***

2.0

Feb-09

1.03

***

1.0

Mar-09

1.52

****

1.5

Apr-09

1.20

****

1.2

May-09

1.20

*****

1.2

(  ) = Barrels released from SPR

*        Totals may change due to rounding

**      Hurricane Gustav Exchange barrels

***     Hurricane Gustav Exchange barrels scheduled return (includes premium volumes)

*****   RIK Phase IVb deferred deliveries (includes premium volumes)

April 10, 2008

добро пожаловать Вв, Pak Putin!

Kamis, 6 September 2007

 

 

 Links:

December 25, 2007

FACTBOX-Why oil prices are near a record high

FACTBOX-Why oil prices are near a record high

Sun Jul 22, 2007 11:22PM EDT

(Reuters) – Real and threatened disruptions to crude oil supplies, constraints at refineries in consuming countries, resilient global fuel demand and a flow of investor money into oil and other commodities have pushed prices higher.

FUNDS

Investment flows from pension and hedge funds into commodities including oil have resumed in recent months after a hiatus earlier in the year due to concerns about how the global economy was moving.

Investors are also increasing bets that prices will rise.

Speculators in the New York Mercantile Exchange crude oil market boosted net long positions to a record high in the week to July 10, the Commodity Futures Trading Commission said.

Speculative trading in energy markets has surged in recent years as investors sought to beat returns in other markets such as equities and bonds

LESS OPEC OIL

The Organization of the Petroleum Exporting Countries, source of more than a third of the world’s oil, is pumping less than in 2006 after agreeing to remove barrels from the market.

OPEC agreed to curb supply by 1.7 million bpd, or about 6 percent, last year in two steps. The second stage took effect from February 1.

Members have made about 1 million bpd of the pledged reduction, according to Reuters estimates. The exporter group is next scheduled to meet in September to decide production policy.

Consumer nations have called on OPEC to pump more crude to help ease prices, but the group’s oil ministers insist crude supplies are adequate.

DEMAND

While previous price spikes have been triggered by supply disruptions, demand from nations such as China and the United States is a main driver of the current rally.

Global demand growth has slowed after a surge in 2004, but it is still rising and higher prices have so far had a very limited effect on economic growth.

Analysts say the world is coping well with high nominal prices because adjusted for exchange rates and inflation, they are lower than during previous price spikes and some economies have become less energy intensive.

NIGERIA

Supply of crude from Nigeria, the world’s eighth-largest oil exporter, has been cut since February 2006 because of militant attacks on the country’s oil industry.

Oil companies have detailed about 547,000 barrels per day of shut Nigerian production due to militant attacks and sabotage. The amount represents about 18 percent of the West African country’s output capacity of around 3 million bpd.

REFINERY BOTTLENECKS

Adding to concern about tight supply of unrefined crude is a global shortage of refining capacity.

Refiners in the United States, the world’s top gas guzzler, have struggled with unexpected outages this year which drained inventories ahead of the summer, when motor fuel demand peaks.

U.S. gasoline inventories stand at 203.3 million barrels, 9.5 million below a year ago, according to government data. Demand is still growing, despite higher prices.

Refining capacity is already tight after years of underinvestment.

The U.S. oil industry took a battering in 2005’s Atlantic hurricane season. Some forecasters expect an active storm season this year.

IRAN

Oil consumers are concerned about supply disruption from Iran, the world’s fourth-biggest exporter, which is locked in a dispute with the West over its nuclear program.

Western governments suspect Iran is using its civilian nuclear program as a cover to develop nuclear weapons. Iran denies this, saying it wants nuclear power to make electricity.

IRAQ

Iraq is struggling to get its oil industry back on its feet. Exports are stagnating at around 1.5 million bpd, compared with 1.7 million bpd or more under Saddam Hussein.

Decades of wars, sanctions and underinvestment have left Iraq struggling to pump its oil out of the ground and on to world markets. Production has failed to meet optimistic projections by oil ministry officials.

Iraq is also unable to ship crude regularly from its northern fields for export from the Turkish port of Ceyhan because of attacks on the pipeline to Turkey.

Oil falls ahead of OPEC meeting

Mon Sep 10, 2007 8:15AM EDT

LONDON (Reuters) – Oil slid on Monday ahead of an OPEC meeting in Vienna that is due to set production levels for peak winter demand.

Most members of the Organization of the Petroleum Exporting Countries seem happy with OPEC’s current output, but Saudi Arabia, the world’s biggest exporter, has yet to signal its views.

“There is a little bit of talk that the Saudis may be influenced to push for 0.5 million bpd increase,” said Rob Laughlin, senior broker at MF Global.

U.S. light crude fell 72 cents to $75.98 a barrel by 8:10 a.m. EDT, after climbing 40 cents on Friday. London Brent crude shed 85 cents to $74.22 a barrel.

Saudi Oil Minister Ali al-Naimi has so far declined to make any comment.

He has not responded to a report by Washington-based consultancy PFC Energy saying Saudi Arabian sources signaled OPEC may need to boost output by up to 1 million barrels per day (bpd).

Any increase by OPEC would reverse some of the output cuts of 1.7 million bpd — roughly six percent of supplies — put in place since October 2006.

An increase might help to ease upward pressure on oil prices, which are close to a record high of $78.77 a barrel set on August1.

Industrialized consumer nations have argued that crude oil stocks will shrink rapidly by January next year if OPEC does not increase output.

“Near-record spot prices, steep inventory draws and economic uncertainty would all be good reasons for OPEC to reverse its October 2006 production cuts at its meeting on September 11,” said Lehman Brothers in a research note. “But few observers, us included, believe that it will do so.”

Worries over shrinking crude oil supplies are clouded by doubts over the economic health of top consumer, the United States.

There are concerns that turmoil in the world financial markets, triggered by problems in the U.S. mortgage sector, could tip the United States into recession and hit oil demand.

Payrolls in the United States shrank unexpectedly for the first time in four years last month, data showed on Friday, prompting concerns that credit market turmoil may become a drag on economic growth.

Saudi Arabia told its customers in Asia it would keep its crude oil supplies steady for October from September levels, industry sources in Japan and South Korea said on Monday.

More than half of Saudi Arabia’s crude heads to Asia.

The kingdom, key to any OPEC decision, pumped 8.65 million bpd of the cartel’s total August production of 30.37 million bpd, Reuters data shows. It also has the bulk of OPEC’s spare production capacity.

October 16, 2007

BBM Subsidi Melebihi Kuota

Filed under: minyak — merdeka1978 @ 9:00 am
Tags: , , , , , , , , ,

BBM Subsidi Melebihi Kuota
Konsumsi Sulit Ditekan, Harga Minyak Dunia Terus Naik

 

Jakarta, Kompas – PT Pertamina memperkirakan, realisasi konsumsi bahan bakar minyak bersubsidi bakal melampaui kuota yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan atau APBN-P Tahun 2007. Dengan demikian, besaran subsidi BBM bakal melebihi perkiraan.

Wakil Presiden Ritel BBM PT Pertamina Djaelani Sutomo, Senin (8/10), seusai pemaparan kesiapan pasokan BBM selama Lebaran di Jakarta, mengemukakan, pihaknya telah meminta petunjuk pemerintah soal ini.

“Kami tidak ingin terjadi kelangkaan seperti tahun lalu, ketika konsumsi minyak tanah melampaui kuota, sementara pemerintah tidak bisa segera memutuskan apakah volume bisa ditambah karena terkait dengan penambahan subsidi,” papar Djaelani.

DPR dan pemerintah sepakat memangkas asumsi subsidi dan volume BBM dalam APBN-P 2007. Subsidi ditekan dari Rp 61,8 triliun menjadi Rp 55 triliun.

Sementara itu, kuota BBM dikurangi dari 37,9 juta kiloliter (KL) menjadi 36,02 juta KL. Premium dikurangi dari 17 juta KL menjadi 16,58 juta KL, dan minyak solar dari 10 juta KL menjadi 9,857 juta KL.

Di sisi lain, akibat terlambatnya program konversi minyak tanah ke elpiji, kuota minyak tanah bersubsidi dinaikkan dari 8,9 juta KL menjadi 9,518 juta KL.

Menurut Djaelani, konsumsi premium sampai akhir September 2007 sudah mencapai angka 16,95 juta KL atau 2,3 persen di atas kuota.

Oktober ini, dipicu kenaikan kebutuhan selama Lebaran, konsumsi premium diperkirakan naik 10-15 persen dari normal yang 49.000-50.000 KL per hari menjadi sekitar 54.000-55.000 KL per hari.

Dengan kecenderungan konsumsi yang selalu meningkat di penghujung tahun, Pertamina memperkirakan realisasi konsumsi premium akan mencapai 17,6 juta KL atau sekitar 6 persen di atas kuota.

Konsumsi solar sampai akhir tahun diperkirakan akan mencapai angka 10,8 juta KL atau 8,5 persen melebihi kuota. Selain itu, realisasi minyak tanah hingga akhir tahun ini diperkirakan 9,78 juta KL atau 3 persen di atas kuota.

Djaelani menilai, penetapan kuota BBM hanya dengan melihat realisasi pada semester I cenderung meleset. Sebab, kecenderungan pemakaian BBM selalu rendah pada awal tahun dan tinggi menjelang akhir tahun.

Ia mengatakan, dengan realisasi konsumsi BBM yang melebihi kuota, maka subsidi pun bakal bertambah. Berdasarkan hitungan Pertamina, sampai bulan Juli 2007 realisasi subsidi BBM sudah mencapai Rp 42,5 triliun atau 77 persen dari kuota subsidi BBM.

“Subsidinya pasti bertambah apalagi dengan situasi harga minyak di pasar internasional yang terus naik,” ujar Djaelani.

Dalam APBN-P 2007, pemerintah menurunkan asumsi harga minyak di pasar internasional dari 63 dollar AS per barrel menjadi 60 dollar AS per barrel.

Sementara, memasuki semester dua tahun ini harga minyak dunia justru terus bertahan di atas 70 dollar AS per barrel.

Senior Vice President Niaga dan Pemasaran PT Pertamina Hanung Budya mengatakan, dengan pertumbuhan jumlah kendaraan, sulit untuk menekan konsumsi BBM transportasi.

Subsidi listrik

Secara terpisah, Direktur Utama PT Pertamina Ari Soemarno mengemukakan, pihaknya belum bisa memastikan berapa volume BBM yang bisa dipasok ke PT Perusahaan Listrik Negara tahun depan.

Rata-rata, Pertamina memasok BBM sebanyak 9 juta KL per tahun ke PLN. Ari menyebutkan, marjin 9,5 persen dalam perhitungan harga BBM yang dijual Pertamina ke PLN adalah marjin rata-rata di seluruh Indonesia.

Terkait subsidi listrik, Dirjen Listrik dan Pemanfaatan Energi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral J Purwono mengatakan, angka pertumbuhan 5,5 persen yang disepakati oleh pemerintah dan DPR sudah paling realistis.

Angka itu sudah disesuaikan dengan kemampuan keuangan negara dan kemampuan pasokan listrik PLN. Purwono mengatakan, pemerintah dan PLN semula mengajukan opsi angka pertumbuhan 6,8 persen untuk mengimbangi target pertumbuhan ekonomi.

“Memang kalau dilihat dari sisi kelistrikan sebagai infrastruktur pendorong pertumbuhan ekonomi, idealnya pertumbuhan listrik itu 1,5 kali pertumbuhan ekonomi. Namun, setelah menimbang beberapa faktor, target diturunkan, subsidinya juga. PLN diharapkan bisa memperbaiki efisiensi,” ujar Purwono. (DOT)

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0710/09/ekonomi/3909636.htm

Harga Minyak Tekan Industri

Filed under: minyak — merdeka1978 @ 8:57 am
Tags: , , , , , , , ,

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0709/25/ekonomi/3866546.htm

Harga Minyak Tekan Industri
Mulai Oktober 2007, Harga Gas Akan Naik 10 Persen

 

Jakarta, Kompas – Pelaku industri mulai merasakan dampak kenaikan harga minyak dunia. Di Indonesia, biaya pengangkutan dan penggunaan bahan bakar untuk kegiatan produksi, khususnya pada sektor manufaktur, terus merangkak naik. Tuntutan efisiensi dalam kegiatan produksi pun makin menguat

Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia Benny Soetrisno di Jakarta, Senin (24/9), mengungkapkan, perusahaan pengapalan untuk kegiatan ekspor impor sejak tiga bulan terakhir mulai menaikkan ongkos angkutan.

Selain terkait kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), penyesuaian harga juga dilakukan perusahaan pengapalan berdasarkan perubahan nilai tukar dan harga pengisian air tawar.

“Kenaikan biaya pada masing-masing shipping line berbeda, tetapi kira-kira sudah naik tiga persen dari biaya pengapalan sebelumnya,” ujar Benny.

Harga minyak mentah light sweet untuk pengiriman November dalam perdagangan elektronik Asia di New York Mercantile Exchange, Singapura, Senin siang, tercatat senilai 81,02 dollar AS per barrel.

Harga tersebut sedikit lebih rendah dari harga pengiriman Oktober yang mencapai 83,90 dollar AS per barrel. Selain berdampak pada biaya transportasi, kenaikan harga minyak dunia juga mendongkrak biaya produksi.

Sementara itu, mulai 1 September 2007 Pertamina menaikkan harga solar untuk industri di wilayah satu (selain unit pemasaran Makassar, Jayapura, dan Nusa Tenggara Timur) dari Rp 6.187,50 per liter Agustus lalu menjadi Rp 6.254,60 per liter.

Untuk periode yang sama, harga minyak bakar naik dari Rp 4.250,40 menjadi Rp 4.370,30 per liter. Minyak diesel juga naik dari Rp 5.991,70 menjadi Rp 6.065,40 per liter.

Pada industri tekstil dan produk tekstil, penggunaan bahan bakar paling banyak digunakan oleh subsektor industri pemintalan dan serat.

Menurut Benny, hampir 90 persen produsen serat di Indonesia sudah beralih menggunakan batu bara sebagai sumber energi listrik. Daya terpasang dengan pembangkit bertenaga batu bara untuk industri itu kini mencapai 250 megawatt.

“Tetapi di pemintalan baru sekitar 50 persen yang pakai batu bara. Selebihnya, masih pakai marine fuel oil (minyak bakar), marine fuel diesel (minyak diesel), atau solar. Rata-rata biaya bahan bakar sudah naik sekitar 7,6 persen atau Rp 300 per liter,” ujar Benny.

Harus efisien

Kondisi ini memaksa pelaku usaha melakukan beragam efisiensi dalam kegiatan produksi maupun pengangkutan. “Masalahnya, konsumen enggak akan mau naik harga. Padahal, suplai produk manufaktur selalu lebih besar dari permintaan. Jadi, industri memang dipaksa harus makin efisien,” ujar Benny.

Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia Achmad Widjaya memperhitungkan kenaikan harga minyak bagi industri keramik akan mulai terasa menekan seusai Lebaran.

Penyuplai bahan baku bagi industri keramik dan distributornya saat ini menuntut kenaikan biaya angkutan. Terlebih lagi angkutan untuk industri ini tergolong bertonase besar, antara lain berupa bahan galian C sebagai bahan baku dan produk jadi keramik.

Menurut Widjaya, biaya transportasi mencapai 20 persen dari total komponen produksi. Kenaikan harga BBM nonsubsidi untuk transportasi dan kenaikan tarif jalan tol diperkirakan akan mendongkrak biaya transportasi sekitar 10 persen.

Kenaikan biaya transportasi bagi industri keramik makin memberatkan, karena mulai Oktober 2007 harga gas juga akan naik 10 persen. Komponen gas dalam biaya produksi keramik sekitar 30 persen. (DAY)

Harga Minyak Melonjak, Melampaui 85 Dollar AS

Filed under: harga minyak,minyak — merdeka1978 @ 8:45 am
Tags: , , , , , , ,

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0710/16/ekonomi/3918366.htm

Bahan Bakar
Harga Minyak Melonjak, Melampaui 85 Dollar AS

 

London, Senin – Harga minyak mentah dunia, Senin (15/10) pagi, melonjak hingga mencapai rekor tertinggi 85,19 dollar AS per barrel di bursa New York, Amerika Serikat. Harga minyak jenis Brent di bursa London juga mencetak rekor, yakni 81,93 dollar AS per barrel.

Kondisi ini karena memuncaknya ketegangan antara Turki dan suku Kurdi di Irak. Sejumlah kalangan mengkhawatirkan kenaikan harga itu akan memengaruhi kebijakan Irak, salah satu produsen minyak mentah, untuk memperketat suplai minyak.

Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) tetap yakin bahwa kenaikan harga minyak dunia tak akan memengaruhi permintaan minyak dunia. OPEC tetap memperkirakan kenaikan 1,5 persen permintaan minyak dunia tahun ini atau rata-rata 1,3 juta barrel per hari.

Menurut OPEC, permintaan minyak dunia selama triwulan ketiga tahun ini cenderung menurun. Namun, akan terjadi kenaikan permintaan minyak dunia hingga 1,8 juta barrel per hari pada triwulan keempat. Kenaikan permintaan minyak dunia pada triwulan keempat itu menyusul meningkatnya kebutuhan minyak sebagai dampak musim dingin di belahan bumi utara. Kebutuhan minyak yang meningkat di antaranya untuk bahan bakar dan pemanas.

Sementara itu, pada tahun 2008 kenaikan permintaan minyak diperkirakan juga mencapai rata-rata 1,3 juta barrel per hari. “Kenaikan permintaan minyak itu tidak akan bergeser dari perkiraan sebelumnya,” kata OPEC, seperti dikutip AFP.

Meski demikian, ketidakpastian minyak dunia diperkirakan akan semakin besar.

“Di luar persoalan geopolitik di beberapa negara, berlangsungnya musim dingin dan berlanjutnya kemunduran ekonomi Amerika Serikat dan ekonomi dunia pada 2008 akan memberi pengaruh besar terhadap kondisi minyak dunia,” kata sumber OPEC, seperti dikutip AFP.

Spekulasi

Ulah spekulan yang muncul seiring melemahnya nilai kurs dollar AS juga akan memengaruhi pasar minyak mentah dunia. Ulah spekulan akan mendorong harga minyak premium dan menambah ketidakpastian pasar.

OPEC menambahkan, menguatnya harga minyak juga dipengaruhi oleh kekhawatiran terhadap potensi kerusakan instalasi minyak di Teluk Meksiko akibat badai topan bulan September.

Negara-negara OPEC berencana untuk mengadakan pertemuan di Abu Dhabi awal Desember mendatang untuk mengkaji kembali perkembangan kondisi minyak terakhir serta memastikan keamanan pasokan minyak dunia selama berlangsungnya musim dingin. (AFP/LKT)

September 10, 2007

Factbox: National oil companies work together

FACTBOX-National oil companies work together

Wed Jul 4, 2007 7:49AM EDT

 

July 4 (Reuters) – Through a series of multi-million dollar deals, national oil companies have gained greater global status by working together, rather than turning to international oil majors.

In some cases the cooperation has been primarily political and is linked to the trend of resource nationalism, whereby resource-holders seek to retain the greatest share of their natural resources wealth.

Other cases are pragmatic, as national oil companies discover they can serve each other’s interests without relying on the commercial firms that have traditionally been regarded as essential sources of technical expertise.

China’s national oil companies have been particularly aggressive in pursuing opportunities to work with peers across the world as the nation seeks to cater for its huge energy needs.

For related story on the rise of national oil companies, please click on [ID:nL12694897]

Below is a reverse chronological list of some of the deals and potential partnerships between national oil companies.

(more…)

July 6, 2007

AUSTRALIA AKUI ADA FAKTOR MINYAK DI BALIK INVANSI IRAK

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0707/06/ln/3663823.htm
Jumat, 06 Juli 2007
 
 
 
Australia Akui Ada Faktor Minyak di Balik Invasi Irak
Sudah 3.580 Tentara AS Tewas sejak 2003canberra, kamis – Untuk pertama kali, Pemerintah Australia mengakui bahwa minyak menjadi faktor kunci di balik dukungan Australia atas invasi Amerika Serikat ke Irak. Semula, Australia selalu menyangkal adanya kepentingan untuk mengamankan suplai minyak sebagai alasan invasi tersebut. Dalam sebuah tinjauan strategi pertahanan Australia yang dirilis Kamis (5/7) disebutkan bahwa “mengamankan sumber daya” di Timur Tengah adalah prioritas utama. “Strategi pertahanan yang kami umumkan hari ini menjabarkan banyak prioritas pertahanan dan keamanan Australia, dan keamanan sumber daya adalah salah satunya,” kata Menteri Pertahanan Australia Brendan Nelson. “Timur Tengah sendiri, tidak hanya Irak, tetapi juga seluruh kawasan Timur Tengah, adalah penyedia energi penting untuk dunia. Australia dan seluruh dunia perlu memikirkan apa yang akan terjadi jika ada penarikan pasukan lebih awal dari Irak,” ujarnya.

Pernyataan tersebut membuktikan argumen para penentang keras Perang Irak bahwa invasi AS pada tahun 2003 lebih didorong kepentingan minyak daripada alasan menemukan senjata pemusnah massal milik Saddam Hussein.

(more…)

June 20, 2007

HARGA MINYAK DAN FAKTOR GEOPOLITIK

Harga Minyak dan Faktor Geopolitik

Maizar Rahman, Ketua Dewan Gubernur OPEC

(maiza548@rad.net.id)

Membubungnya harga minyak di luar normal membuat prihatin menteri-menteri energi di berbagai negara yang berkumpul di Doha, Qatar, dalam rangka menghadiri Forum Energi Internasional ke-10, akhir April 2006 lalu. Mereka tidak menolak bahwa ketegangan geopolitik adalah asal-usul ketidakpastian situasi yang kemudian menjadi lahan subur bagi spekulasi perdagangan minyak.

Penawaran minyak di pasar berjangka kini sudah mencapai lebih dari sejuta lot. Berarti, “minyak kertas” yang ditawarkan sudah melebihi semiliar barel – lebih dari 12 kali perdagangan fisik minyak. Sedangkan di lapangan, tanki dan tanker-tanker penuh berisi minyak justru kekurangan pembeli. Lebih dari 20 dolar AS per barel kenaikan harga minyak sekarang ini hanya disebabkan oleh faktor geopolitik.

Para produsen minyak yang “sadar” tidak merasa nyaman dengan tingginya harga minyak pada tahun 2006. Kenapa? Karena kondisi tersebut di luar kemauan dan di luar kontrol mereka. Kalau negara maju masih mampu menyerap lonjakan harga minyak ini, maka bagi negara berkembang itu merupakan proses pemiskinan.

Harga minyak sangat fluktuatif terhadap konflik, bencana alam, atau faktor nonfundamental lain. Di sisi lain, negara-negara produsen minyak mengatakan bahwa kapasitas cadangan adalah “kemewahan”. Ibarat mobil simpanan yang hanya dipakai sekali-sekali, dan itu tidak ada dalam dalil perekonomian yang sehat.

Tersedianya cadangan OPEC di tahun 1990-an, umpamanya, lebih disebabkan oleh kapasitas yang telanjur dipakai terkait kompetisi produksi dengan non-OPEC. Karena itu, terjadi pengurangan produksi untuk memperbaiki harga yang waktu itu di bawah 20 dolar AS per barel.

Kapasitas produksi minyak mentah saat ini sebenarnya mampu melayani proses pasokan dan permintaan dunia yang seimbang. Malahan OPEC masih memiliki kapasitas cadangan sekitar 2 juta barel yang dapat dimobilisasi cepat, dan 1-2 juta barel lagi yang memerlukan waktu mobilisasi lebih lama.

Namun kalangan Barat menganggap itu belum cukup untuk menanggulangi gangguan pasokan. Misalnya, terhentinya produksi minyak mentah di Iran. Dalam kaitan ini, seolah-olah OPEC harus mengakomodasi konflik. Agar konflik tidak mengganggu pasar, kapasitas cadangan harus dinaikkan.

Pencegahan konflik adalah dengan menerapkan proses geopolitik yang damai. Pada kondisi tersebut akan tercipta stabilitas harga minyak sesuai mekanisme pasar yang berdasarkan keseimbangan permintaan dan pasokan.***

Next Page »

Blog at WordPress.com.