Geopolitik Energi

October 16, 2007

Harga Minyak Tekan Industri

Filed under: minyak — merdeka1978 @ 8:57 am
Tags: , , , , , , , ,

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0709/25/ekonomi/3866546.htm

Harga Minyak Tekan Industri
Mulai Oktober 2007, Harga Gas Akan Naik 10 Persen

 

Jakarta, Kompas – Pelaku industri mulai merasakan dampak kenaikan harga minyak dunia. Di Indonesia, biaya pengangkutan dan penggunaan bahan bakar untuk kegiatan produksi, khususnya pada sektor manufaktur, terus merangkak naik. Tuntutan efisiensi dalam kegiatan produksi pun makin menguat

Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia Benny Soetrisno di Jakarta, Senin (24/9), mengungkapkan, perusahaan pengapalan untuk kegiatan ekspor impor sejak tiga bulan terakhir mulai menaikkan ongkos angkutan.

Selain terkait kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), penyesuaian harga juga dilakukan perusahaan pengapalan berdasarkan perubahan nilai tukar dan harga pengisian air tawar.

“Kenaikan biaya pada masing-masing shipping line berbeda, tetapi kira-kira sudah naik tiga persen dari biaya pengapalan sebelumnya,” ujar Benny.

Harga minyak mentah light sweet untuk pengiriman November dalam perdagangan elektronik Asia di New York Mercantile Exchange, Singapura, Senin siang, tercatat senilai 81,02 dollar AS per barrel.

Harga tersebut sedikit lebih rendah dari harga pengiriman Oktober yang mencapai 83,90 dollar AS per barrel. Selain berdampak pada biaya transportasi, kenaikan harga minyak dunia juga mendongkrak biaya produksi.

Sementara itu, mulai 1 September 2007 Pertamina menaikkan harga solar untuk industri di wilayah satu (selain unit pemasaran Makassar, Jayapura, dan Nusa Tenggara Timur) dari Rp 6.187,50 per liter Agustus lalu menjadi Rp 6.254,60 per liter.

Untuk periode yang sama, harga minyak bakar naik dari Rp 4.250,40 menjadi Rp 4.370,30 per liter. Minyak diesel juga naik dari Rp 5.991,70 menjadi Rp 6.065,40 per liter.

Pada industri tekstil dan produk tekstil, penggunaan bahan bakar paling banyak digunakan oleh subsektor industri pemintalan dan serat.

Menurut Benny, hampir 90 persen produsen serat di Indonesia sudah beralih menggunakan batu bara sebagai sumber energi listrik. Daya terpasang dengan pembangkit bertenaga batu bara untuk industri itu kini mencapai 250 megawatt.

“Tetapi di pemintalan baru sekitar 50 persen yang pakai batu bara. Selebihnya, masih pakai marine fuel oil (minyak bakar), marine fuel diesel (minyak diesel), atau solar. Rata-rata biaya bahan bakar sudah naik sekitar 7,6 persen atau Rp 300 per liter,” ujar Benny.

Harus efisien

Kondisi ini memaksa pelaku usaha melakukan beragam efisiensi dalam kegiatan produksi maupun pengangkutan. “Masalahnya, konsumen enggak akan mau naik harga. Padahal, suplai produk manufaktur selalu lebih besar dari permintaan. Jadi, industri memang dipaksa harus makin efisien,” ujar Benny.

Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia Achmad Widjaya memperhitungkan kenaikan harga minyak bagi industri keramik akan mulai terasa menekan seusai Lebaran.

Penyuplai bahan baku bagi industri keramik dan distributornya saat ini menuntut kenaikan biaya angkutan. Terlebih lagi angkutan untuk industri ini tergolong bertonase besar, antara lain berupa bahan galian C sebagai bahan baku dan produk jadi keramik.

Menurut Widjaya, biaya transportasi mencapai 20 persen dari total komponen produksi. Kenaikan harga BBM nonsubsidi untuk transportasi dan kenaikan tarif jalan tol diperkirakan akan mendongkrak biaya transportasi sekitar 10 persen.

Kenaikan biaya transportasi bagi industri keramik makin memberatkan, karena mulai Oktober 2007 harga gas juga akan naik 10 persen. Komponen gas dalam biaya produksi keramik sekitar 30 persen. (DAY)

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: