Geopolitik Energi

October 16, 2007

BBM Subsidi Melebihi Kuota

Filed under: minyak — merdeka1978 @ 9:00 am
Tags: , , , , , , , , ,

BBM Subsidi Melebihi Kuota
Konsumsi Sulit Ditekan, Harga Minyak Dunia Terus Naik

 

Jakarta, Kompas – PT Pertamina memperkirakan, realisasi konsumsi bahan bakar minyak bersubsidi bakal melampaui kuota yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan atau APBN-P Tahun 2007. Dengan demikian, besaran subsidi BBM bakal melebihi perkiraan.

Wakil Presiden Ritel BBM PT Pertamina Djaelani Sutomo, Senin (8/10), seusai pemaparan kesiapan pasokan BBM selama Lebaran di Jakarta, mengemukakan, pihaknya telah meminta petunjuk pemerintah soal ini.

“Kami tidak ingin terjadi kelangkaan seperti tahun lalu, ketika konsumsi minyak tanah melampaui kuota, sementara pemerintah tidak bisa segera memutuskan apakah volume bisa ditambah karena terkait dengan penambahan subsidi,” papar Djaelani.

DPR dan pemerintah sepakat memangkas asumsi subsidi dan volume BBM dalam APBN-P 2007. Subsidi ditekan dari Rp 61,8 triliun menjadi Rp 55 triliun.

Sementara itu, kuota BBM dikurangi dari 37,9 juta kiloliter (KL) menjadi 36,02 juta KL. Premium dikurangi dari 17 juta KL menjadi 16,58 juta KL, dan minyak solar dari 10 juta KL menjadi 9,857 juta KL.

Di sisi lain, akibat terlambatnya program konversi minyak tanah ke elpiji, kuota minyak tanah bersubsidi dinaikkan dari 8,9 juta KL menjadi 9,518 juta KL.

Menurut Djaelani, konsumsi premium sampai akhir September 2007 sudah mencapai angka 16,95 juta KL atau 2,3 persen di atas kuota.

Oktober ini, dipicu kenaikan kebutuhan selama Lebaran, konsumsi premium diperkirakan naik 10-15 persen dari normal yang 49.000-50.000 KL per hari menjadi sekitar 54.000-55.000 KL per hari.

Dengan kecenderungan konsumsi yang selalu meningkat di penghujung tahun, Pertamina memperkirakan realisasi konsumsi premium akan mencapai 17,6 juta KL atau sekitar 6 persen di atas kuota.

Konsumsi solar sampai akhir tahun diperkirakan akan mencapai angka 10,8 juta KL atau 8,5 persen melebihi kuota. Selain itu, realisasi minyak tanah hingga akhir tahun ini diperkirakan 9,78 juta KL atau 3 persen di atas kuota.

Djaelani menilai, penetapan kuota BBM hanya dengan melihat realisasi pada semester I cenderung meleset. Sebab, kecenderungan pemakaian BBM selalu rendah pada awal tahun dan tinggi menjelang akhir tahun.

Ia mengatakan, dengan realisasi konsumsi BBM yang melebihi kuota, maka subsidi pun bakal bertambah. Berdasarkan hitungan Pertamina, sampai bulan Juli 2007 realisasi subsidi BBM sudah mencapai Rp 42,5 triliun atau 77 persen dari kuota subsidi BBM.

“Subsidinya pasti bertambah apalagi dengan situasi harga minyak di pasar internasional yang terus naik,” ujar Djaelani.

Dalam APBN-P 2007, pemerintah menurunkan asumsi harga minyak di pasar internasional dari 63 dollar AS per barrel menjadi 60 dollar AS per barrel.

Sementara, memasuki semester dua tahun ini harga minyak dunia justru terus bertahan di atas 70 dollar AS per barrel.

Senior Vice President Niaga dan Pemasaran PT Pertamina Hanung Budya mengatakan, dengan pertumbuhan jumlah kendaraan, sulit untuk menekan konsumsi BBM transportasi.

Subsidi listrik

Secara terpisah, Direktur Utama PT Pertamina Ari Soemarno mengemukakan, pihaknya belum bisa memastikan berapa volume BBM yang bisa dipasok ke PT Perusahaan Listrik Negara tahun depan.

Rata-rata, Pertamina memasok BBM sebanyak 9 juta KL per tahun ke PLN. Ari menyebutkan, marjin 9,5 persen dalam perhitungan harga BBM yang dijual Pertamina ke PLN adalah marjin rata-rata di seluruh Indonesia.

Terkait subsidi listrik, Dirjen Listrik dan Pemanfaatan Energi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral J Purwono mengatakan, angka pertumbuhan 5,5 persen yang disepakati oleh pemerintah dan DPR sudah paling realistis.

Angka itu sudah disesuaikan dengan kemampuan keuangan negara dan kemampuan pasokan listrik PLN. Purwono mengatakan, pemerintah dan PLN semula mengajukan opsi angka pertumbuhan 6,8 persen untuk mengimbangi target pertumbuhan ekonomi.

“Memang kalau dilihat dari sisi kelistrikan sebagai infrastruktur pendorong pertumbuhan ekonomi, idealnya pertumbuhan listrik itu 1,5 kali pertumbuhan ekonomi. Namun, setelah menimbang beberapa faktor, target diturunkan, subsidinya juga. PLN diharapkan bisa memperbaiki efisiensi,” ujar Purwono. (DOT)

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0710/09/ekonomi/3909636.htm

Advertisements

Harga Minyak Tekan Industri

Filed under: minyak — merdeka1978 @ 8:57 am
Tags: , , , , , , , ,

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0709/25/ekonomi/3866546.htm

Harga Minyak Tekan Industri
Mulai Oktober 2007, Harga Gas Akan Naik 10 Persen

 

Jakarta, Kompas – Pelaku industri mulai merasakan dampak kenaikan harga minyak dunia. Di Indonesia, biaya pengangkutan dan penggunaan bahan bakar untuk kegiatan produksi, khususnya pada sektor manufaktur, terus merangkak naik. Tuntutan efisiensi dalam kegiatan produksi pun makin menguat

Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia Benny Soetrisno di Jakarta, Senin (24/9), mengungkapkan, perusahaan pengapalan untuk kegiatan ekspor impor sejak tiga bulan terakhir mulai menaikkan ongkos angkutan.

Selain terkait kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), penyesuaian harga juga dilakukan perusahaan pengapalan berdasarkan perubahan nilai tukar dan harga pengisian air tawar.

“Kenaikan biaya pada masing-masing shipping line berbeda, tetapi kira-kira sudah naik tiga persen dari biaya pengapalan sebelumnya,” ujar Benny.

Harga minyak mentah light sweet untuk pengiriman November dalam perdagangan elektronik Asia di New York Mercantile Exchange, Singapura, Senin siang, tercatat senilai 81,02 dollar AS per barrel.

Harga tersebut sedikit lebih rendah dari harga pengiriman Oktober yang mencapai 83,90 dollar AS per barrel. Selain berdampak pada biaya transportasi, kenaikan harga minyak dunia juga mendongkrak biaya produksi.

Sementara itu, mulai 1 September 2007 Pertamina menaikkan harga solar untuk industri di wilayah satu (selain unit pemasaran Makassar, Jayapura, dan Nusa Tenggara Timur) dari Rp 6.187,50 per liter Agustus lalu menjadi Rp 6.254,60 per liter.

Untuk periode yang sama, harga minyak bakar naik dari Rp 4.250,40 menjadi Rp 4.370,30 per liter. Minyak diesel juga naik dari Rp 5.991,70 menjadi Rp 6.065,40 per liter.

Pada industri tekstil dan produk tekstil, penggunaan bahan bakar paling banyak digunakan oleh subsektor industri pemintalan dan serat.

Menurut Benny, hampir 90 persen produsen serat di Indonesia sudah beralih menggunakan batu bara sebagai sumber energi listrik. Daya terpasang dengan pembangkit bertenaga batu bara untuk industri itu kini mencapai 250 megawatt.

“Tetapi di pemintalan baru sekitar 50 persen yang pakai batu bara. Selebihnya, masih pakai marine fuel oil (minyak bakar), marine fuel diesel (minyak diesel), atau solar. Rata-rata biaya bahan bakar sudah naik sekitar 7,6 persen atau Rp 300 per liter,” ujar Benny.

Harus efisien

Kondisi ini memaksa pelaku usaha melakukan beragam efisiensi dalam kegiatan produksi maupun pengangkutan. “Masalahnya, konsumen enggak akan mau naik harga. Padahal, suplai produk manufaktur selalu lebih besar dari permintaan. Jadi, industri memang dipaksa harus makin efisien,” ujar Benny.

Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia Achmad Widjaya memperhitungkan kenaikan harga minyak bagi industri keramik akan mulai terasa menekan seusai Lebaran.

Penyuplai bahan baku bagi industri keramik dan distributornya saat ini menuntut kenaikan biaya angkutan. Terlebih lagi angkutan untuk industri ini tergolong bertonase besar, antara lain berupa bahan galian C sebagai bahan baku dan produk jadi keramik.

Menurut Widjaya, biaya transportasi mencapai 20 persen dari total komponen produksi. Kenaikan harga BBM nonsubsidi untuk transportasi dan kenaikan tarif jalan tol diperkirakan akan mendongkrak biaya transportasi sekitar 10 persen.

Kenaikan biaya transportasi bagi industri keramik makin memberatkan, karena mulai Oktober 2007 harga gas juga akan naik 10 persen. Komponen gas dalam biaya produksi keramik sekitar 30 persen. (DAY)

Harga Minyak Melonjak, Melampaui 85 Dollar AS

Filed under: harga minyak,minyak — merdeka1978 @ 8:45 am
Tags: , , , , , , ,

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0710/16/ekonomi/3918366.htm

Bahan Bakar
Harga Minyak Melonjak, Melampaui 85 Dollar AS

 

London, Senin – Harga minyak mentah dunia, Senin (15/10) pagi, melonjak hingga mencapai rekor tertinggi 85,19 dollar AS per barrel di bursa New York, Amerika Serikat. Harga minyak jenis Brent di bursa London juga mencetak rekor, yakni 81,93 dollar AS per barrel.

Kondisi ini karena memuncaknya ketegangan antara Turki dan suku Kurdi di Irak. Sejumlah kalangan mengkhawatirkan kenaikan harga itu akan memengaruhi kebijakan Irak, salah satu produsen minyak mentah, untuk memperketat suplai minyak.

Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) tetap yakin bahwa kenaikan harga minyak dunia tak akan memengaruhi permintaan minyak dunia. OPEC tetap memperkirakan kenaikan 1,5 persen permintaan minyak dunia tahun ini atau rata-rata 1,3 juta barrel per hari.

Menurut OPEC, permintaan minyak dunia selama triwulan ketiga tahun ini cenderung menurun. Namun, akan terjadi kenaikan permintaan minyak dunia hingga 1,8 juta barrel per hari pada triwulan keempat. Kenaikan permintaan minyak dunia pada triwulan keempat itu menyusul meningkatnya kebutuhan minyak sebagai dampak musim dingin di belahan bumi utara. Kebutuhan minyak yang meningkat di antaranya untuk bahan bakar dan pemanas.

Sementara itu, pada tahun 2008 kenaikan permintaan minyak diperkirakan juga mencapai rata-rata 1,3 juta barrel per hari. “Kenaikan permintaan minyak itu tidak akan bergeser dari perkiraan sebelumnya,” kata OPEC, seperti dikutip AFP.

Meski demikian, ketidakpastian minyak dunia diperkirakan akan semakin besar.

“Di luar persoalan geopolitik di beberapa negara, berlangsungnya musim dingin dan berlanjutnya kemunduran ekonomi Amerika Serikat dan ekonomi dunia pada 2008 akan memberi pengaruh besar terhadap kondisi minyak dunia,” kata sumber OPEC, seperti dikutip AFP.

Spekulasi

Ulah spekulan yang muncul seiring melemahnya nilai kurs dollar AS juga akan memengaruhi pasar minyak mentah dunia. Ulah spekulan akan mendorong harga minyak premium dan menambah ketidakpastian pasar.

OPEC menambahkan, menguatnya harga minyak juga dipengaruhi oleh kekhawatiran terhadap potensi kerusakan instalasi minyak di Teluk Meksiko akibat badai topan bulan September.

Negara-negara OPEC berencana untuk mengadakan pertemuan di Abu Dhabi awal Desember mendatang untuk mengkaji kembali perkembangan kondisi minyak terakhir serta memastikan keamanan pasokan minyak dunia selama berlangsungnya musim dingin. (AFP/LKT)

Create a free website or blog at WordPress.com.