Geopolitik Energi

June 20, 2007

HARGA MINYAK DAN FAKTOR GEOPOLITIK

Harga Minyak dan Faktor Geopolitik

Maizar Rahman, Ketua Dewan Gubernur OPEC

(maiza548@rad.net.id)

Membubungnya harga minyak di luar normal membuat prihatin menteri-menteri energi di berbagai negara yang berkumpul di Doha, Qatar, dalam rangka menghadiri Forum Energi Internasional ke-10, akhir April 2006 lalu. Mereka tidak menolak bahwa ketegangan geopolitik adalah asal-usul ketidakpastian situasi yang kemudian menjadi lahan subur bagi spekulasi perdagangan minyak.

Penawaran minyak di pasar berjangka kini sudah mencapai lebih dari sejuta lot. Berarti, “minyak kertas” yang ditawarkan sudah melebihi semiliar barel – lebih dari 12 kali perdagangan fisik minyak. Sedangkan di lapangan, tanki dan tanker-tanker penuh berisi minyak justru kekurangan pembeli. Lebih dari 20 dolar AS per barel kenaikan harga minyak sekarang ini hanya disebabkan oleh faktor geopolitik.

Para produsen minyak yang “sadar” tidak merasa nyaman dengan tingginya harga minyak pada tahun 2006. Kenapa? Karena kondisi tersebut di luar kemauan dan di luar kontrol mereka. Kalau negara maju masih mampu menyerap lonjakan harga minyak ini, maka bagi negara berkembang itu merupakan proses pemiskinan.

Harga minyak sangat fluktuatif terhadap konflik, bencana alam, atau faktor nonfundamental lain. Di sisi lain, negara-negara produsen minyak mengatakan bahwa kapasitas cadangan adalah “kemewahan”. Ibarat mobil simpanan yang hanya dipakai sekali-sekali, dan itu tidak ada dalam dalil perekonomian yang sehat.

Tersedianya cadangan OPEC di tahun 1990-an, umpamanya, lebih disebabkan oleh kapasitas yang telanjur dipakai terkait kompetisi produksi dengan non-OPEC. Karena itu, terjadi pengurangan produksi untuk memperbaiki harga yang waktu itu di bawah 20 dolar AS per barel.

Kapasitas produksi minyak mentah saat ini sebenarnya mampu melayani proses pasokan dan permintaan dunia yang seimbang. Malahan OPEC masih memiliki kapasitas cadangan sekitar 2 juta barel yang dapat dimobilisasi cepat, dan 1-2 juta barel lagi yang memerlukan waktu mobilisasi lebih lama.

Namun kalangan Barat menganggap itu belum cukup untuk menanggulangi gangguan pasokan. Misalnya, terhentinya produksi minyak mentah di Iran. Dalam kaitan ini, seolah-olah OPEC harus mengakomodasi konflik. Agar konflik tidak mengganggu pasar, kapasitas cadangan harus dinaikkan.

Pencegahan konflik adalah dengan menerapkan proses geopolitik yang damai. Pada kondisi tersebut akan tercipta stabilitas harga minyak sesuai mekanisme pasar yang berdasarkan keseimbangan permintaan dan pasokan.***

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: