Geopolitik Energi

IQRO (BACALAH!)

PEMAHAMAN AWAL DARI ORANG AWAM

IQRO: MINYAK!!

Iqro. Bacalah. Itu adalah firman pertama Allah yang diterima Nabi Muhammad SAW. Kata tersebut juga yang terdoktrin di diri saya sejak kecil. Membaca apa pun.

Apakah kita pernah membaca diri kita sendiri bahwa kenapa kita dapat beraktivitas sehari-hari selama ini? Apakah kita pernah membaca ataupun berpikir kenapa tubuh kita hingga kini dapat bergerak? Kenapa ya? Coba tanya kenapa?

Sebagai orang awam, saya memahami hal itu dikarenakan kita mendapat pasokan energi. Pada saat tertentu, manusia mengkonsumsi makanan dan minuman sebagai pasokan energi; demi metabolisme tubuh. Apa yang terjadi jika tidak mengkonsumsi makanan dan minuman? Sebagai ilustrasi, dalam hitungan normal dalam pencarian korban bencana (SAR), manusia tidak akan bertahan tanpa makanan dan minuman setelah 7 hari; kecuali manusia bersangkutan mempunyai ilmu survival yang menambah peluang hari hidupnya.

Itu baru dari sisi manusianya. Bagaimana dengan kumpulan manusia as a nation dalam sebuah negara? Apa yang dibutuhkan sebuah negara agar roda ekonomi negara tersebut tetap berjalan? Apa yang dibutuhkan sebuah bangsa agar mereka dapat tetap beraktivitas? Apa yang dibutuhkan agar kereta api tetap mengantar para penumpang dari stasiun satu ke stasiun berikutnya? Apa yang dibutuhkan oleh gedung perkantoran dan mall agar lift, lampu, hingga pendingin mereka bisa jalan? Apa yang dibutuhkan kapal dan pesawat militer agar tetap bisa jalan ketika negara kita diinvansi oleh negara asing? Apa yang dibutuhkan oleh komputer Anda agar tetap nyala, sehingga Anda sendiri tetap dapat membaca tulisan ini?

Jawabanya: IQRO. Sedangkan kata Gus Dur: “Gitu aja kok repot.” Jawabannya adalah semuanya membutuhkan sumber energi. Sumber energi yang utama untuk kehidupan negara adalah minyak. Ketika bumi mengucurkan minyak, biasanya terdapat gas juga. Jadi, sumber energi utama adalah minyak dan gas (migas). Migas dibutuhkan untuk bahan bakar pembangkit listrik sebagai penggerak mobil, kapal, dan sebagainya. Mari kita renungkan dan berpikir.

Sumber migas di dunia pada umumnya terletak negara-negara berpenduduk mayoritas muslim, dan kandungan migas yang tertinggi terletak di Timur Tengah. Bagaimana dengan Indonesia? Indonesia adalah salah satu negara yang dikaruniai sumber migas. (klik artikel: MINYAK DAN UMAT ISLAM ).

dunia muslim

Menurut saya, kondisi seperti itu adalah takdir untuk umat Islam. Ini sebuah analisis dari fakta dan data yang ada. Maha Besar Allah yang memberikan karunia seperti ini; semoga para hamba dan para pemimpinnya sadar….Amin.

Yang jelas, akses dan sumber energi migas dibutuhkan oleh semua negara di dunia demi metabolisme negara bersangkutan. Perlombaan dan aliansi negara untuk merebut sumber migas terjadi di muka bumi ini. Banyak negara telah jauh melewati garis finish ekspansi, banyak negara juga yang tertinggal jauh di belakang. Entah, posisi Indonesia tercinta kita ada di mana.

Dikarenakan sumber migas (ditakdirkan) terletak di negara-negara berpenduduk mayoritas muslim, kajian-kajian intelijen hingga pertahanan di banyak negara memperhatikan soal dunia muslim. Dari Eropa hingga Amerika; dari Jepang hingga China, kajian mereka tak bisa melepaskan aspek kajian mengenai dunia muslim. Sebagai contoh di Eropa, Italian Institute For High Defence Studies (IASD) dan Romanian National Defence College tidak pernah melepaskan kajian mengenai dunia Islam dan Timur Tengah, dan mereka secara tidak langsung mengakui bahwa 60 persen kandungan minyak dan 30 persen kandungan gas dunia terletak di sana (itu menurut data mereka lho).

muslim-italy.jpg

Sumber: Romanian National Defence College

Dari sini, terlihat jelas bahwa dunia muslim dan Timur Tengah adalah perhatian semua negara. Seorang analis migas sempat berseloroh ke saya bahwa negara-negara di dunia mempunyai kiblat yang sama. Kiblat? Ya, kiblat mereka bukan Kabah, melainkan kandungan minyak yang sangat besar di Timur Tengah. Apakah ini ada kaitan dengan sejarah umat manusia pertama yang (katanya) muncul dari Timur Tengah? Apakah ini ada kaitan dengan sejarah turunnya agama Samawi (agama yang turun dari langit, seperti Islam, Kristen) di Timur Tengah? Walahu’alam.

Yang jelas, dalam merebut sumber energi minyak ini, negara-negara maju menghalalkan segala cara. Mulai dari deal-deal politik tingkat tinggi antar-negara hingga operasi intelijen. Tapi, umumnya negara-negara maju melakukan operasi intelijen. Sebuah konspirasi global demi terciptanya dominasi aliansi beberapa negara maju. Ada dugaan, biasanya konspirasi di bidang energi migas melibatkan perusahaan-perusahaan minyak dunia. Yang jelas, di dunia, tidak ada negara mana pun yang ingin kehilangan akses atau sumber energi minyak. Mereka akan melakukan apa pun demi minyak. (klik artikel: PENGORBANAN AS DEMI MINYAK). Mereka akan melakukan tipuan kata “terorisme” demi minyak.

mtehran.jpg

http://genethomas.wordpress.com/2007/05/04/islam-a-victim-of-terrorism-go-figure/

“Anda bersama kami, atau menjadi musuh,” adalah ucapan Presiden George W. Bush ketika mencanangkan perang terhadap terorisme. Ucapan tersebut sangat jelas sebagai perwujudan strategi global AS demi minyak. Genderang perang terhadap Al-Qaeda digembar-gemborkan. Indonesia kita tercinta kita ikut seruan Bush. Banyak orang tak kritis apa hubungan sebenarnya antara Bush dengan Al-Qaeda, dan kenapa kok tiba-tiba muncul Jamaah Inul…upsss…maaf…Jamaah Islamiyah (klik artikel: SIAPA OSAMA BIN LADEN?! ). Sekarang, juga di Somalia, perang sedang terjadi di sana. AS menuduh ada jaringan Al-Qaeda di Somalia. Apa benar demi memerangi Al-Qaeda di sana? (klik artikel: ALL ABOUT OIL IN SOMALIA!). Masya Allah, kenapa semuanya berbau negara berpenduduk mayoritas muslim?? Ada apa di balik perang antiterorisme?? Ada udang?

IT’S NOT JUST ABOUT THE MONEY, SIR!

Kalimat bahasa Inggris tersebut sempat saya ucapkan kepada seorang fund manager kelas dunia. Seorang Yahudi yang pernah mengguncang nilai mata uang Asia Tenggara beberapa tahun lalu. Anggap aja dia Mr. X.

Mr X. bicara soal pertambangan, salah satunya soal migas. Mr. X ingin adanya transparansi keuangan negara (di dunia, salah satunya Indonesia) bidang pertambangan yang didorong oleh sebuah lembaga bentukan masyarakat. Orang awam tentu akan menerima dengan tangan terbuka atas konsep itu. Terlihat memang bagus. Tapi, tunggu dulu….kita harus melihat kondisi dunia saat itu; kebutuhan energi China yang bersaing dengan Amerika Serikat dan adanya gerakan kaum nasionalis bidang migas di Amerika Selatan. Apalagi, jika melihat pemaparan tulisan ini sebelumnya, sangat jelas bahwa geopolitik dunia sangat dipengaruhi oleh migas.

Inti persoalan migas bukan soal uang. Selama ini, kita membanggakan adanya kontrak migas, yang katanya porsi untuk Indonesia menguntungkan. Apa yang katanya menguntungkan? Yakni, porsi bagi hasil dari hasil penjualan minyak. Yang dibagi itu adalah uangnya. Porsi bagi hasil ini kadang antara 65-75 persen untuk Indonesia dan sisanya untuk kontraktor migas. (kabarnya ada lebih parah lagi, 0 persen untuk Indonesia dan 100 persen untuk kontraktor migas!!!!)

Bagaimana dengan minyak untuk dalam negeri? Dalam kontrak migas, memang terdapat istilah DMO (Domestik Market Obligation). DMO adalah kewajiban kontraktor untuk memenuhi kebutuhan minyak dalam negeri. Hitungannya, 25 % x Contractor Share x Revenue. Besar? Menurut saya, kecil. Seharusnya lebih baik ditingkatkan lagi dan diproses demi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Lalu, kemana aja sisanya yang besar itu? Ya….ke negara-negara maju; minyak dunia paling banyak lari ke Amerika Serikat.

Jadi, Intinya, persoalan migas terletak bagaimana penguasaan barang mentah migas untuk digunakan demi kebutuhan dalam negeri; demi ketahanan nasional. Jawabannya terletak pada revisi kontrak-kontrak migas yang ada dan akan datang. Kita bukan antipati pada investor, tapi seberapa jauh kita memiliki dan menggunakan apa yang kita miliki sendiri. Kita adalah pemilik negeri ini sendiri, bukan yang lain.

“Jadi, it’s not just about the money, sir! Agendakan revisi kontrak migas terlebih dahulu demi kepentingan Indonesia!” ujar saya ke Mr. X. Mr. X pun tidak memberikan pernyataan balasan atas pernyataan saya.

KEMANA INDONESIA-KU?

Membaca atas semua yang terjadi di dunia dan tanah air, kegelisahan demi kegelisahan pun muncul. Sebagai orang awam, saya membaca bahwa saya terlahir sebagai seorang muslim dan tanah air saya adalah Indonesia.

Indonesia adalah rumah saya, dan saya mempunyai kewajiban membersihkan dan membela rumah saya sendiri. Saya adalah tuan rumah untuk tamu-tamu yang datang ke rumah saya. Saya tidak mau dan tidak rela jika rumah saya malah dikuasai oleh tamu-tamu yang datang ke rumah saya. Saya adalah pemilik rumah; Indonesia! Apakah kita mau rumah kita dikuasai (secara sadar dan tidak sadar) oleh para tamu, sehingga si pemilik rumah malah mengontrak rumahnya sendiri? Apakah ada tanah air berstatus ngontrak?!

Tapi, susah. Saya cuman anggota keluarga yang hidup dalam rumah tersebut. Hal ini dikarenakan saya mempunyai kepala keluarga….Tergantung kepala keluarganya….Susah…

Jadi, bagaimana dong? Capek deh…🙂 (end)

BUKU-BUKU GEOPOLITIK MINYAK :

Islam, Oil,and Geopolitics: Central Asia After September 11

The New Imperialism

Blood and Oil: The Dangers and Consequences of America’s Growing Dependency on Imported Petroleum (The American Empire Project):

The Prize: The Epic Quest for Oil, Money, and Power

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: