Geopolitik Energi

June 6, 2007

ENERGY SECURITY DAN DCA SINGAPURA-INDONESIA (new!!)

WILAYAH STRATEGIS, FPDA, SINGAPURA, DAN CHINA

Berdasarkan uraian sebelumnya, kita bisa saja langsung menyimpulkan negara mana yang paling diuntungkan dengan DCA 27 April 2007 itu. Tapi, sebaiknya kita coba juga (menambah hehehe) dari sisi kajian yang lain.

Mari kita lihat sejarah politik pertahanan Singapura. Singapura adalah negara “pecahan” dari Malaysia. Walaupun begitu, kedua negara ini di bawah perlindungan keamanan negara Inggris. Maklum negara bekas jajahan Inggris.

Singapura dapat dikatakan salah satu perwujudan kekuatan Inggris di Asia Tenggara. Tak heran, Singapura masuk di dalam negara anggota Five Power Defence Arrangement (FPDA). Negara-negara anggota FPDA adalah Malaysia, Singapura, Australia, New Zealand, dan Inggris.

FPDA adalah bentuk lain dari AMDA (Anglo Malayan Defence Agreement) tahun 1957. AMDA pun diback up oleh kekuatan Inggris melalui negara protektorat lainnya seperti Australia dan New Zealand (ANZUK). Dulu, AMDA dibentuk untuk menghadang politik konfrontasi Bung Karno. Bung Karno saat itu ingin menggalang kekuatan nasionalis di penjuru melayu, dan menolak kehadiran asing di Asia Tenggara. Yang jelas, keuntungan yang diperoleh oleh Singapura dari FPDA, negara ini diback up penuh oleh Inggris. Selain itu, Singapura bersama negara anggota FPDA mempunyai kesepakatan bersama memberlakukan Integrated Air Defence System di pertahanan udara mereka sejak tahun 1971. Ini sebagai antisipasi atas ancaman eksternal terhadap Singapura dan Malaysia. Jadi, bahasa kasarnya, jika kita menyerang Singapura, ya…siap-siap saja diserang teman-teman mereka seperti Australia, New Zealand, Malaysia, dan malah Inggris juga.

Sebagai sama-sama negara piaraan Inggris, Malaysia dan Singapura (bersama negara FPDA yang lain) sering kali melakukan latihan laut dan udara bersama. Yang jelas, Singapura memang dikenal dengan persenjataan yang canggih di bidang udara. Ini yang salah satu dihandalkan Malaysia atas Singapura.

Sebagai salah satu jelmaan Inggris, Singapura mau tak mau juga dipakai oleh Sekutu untuk lakukan pengawasan wilayah strategis sekitar Singapura, terutama wilayah Selat Malaka dan Laut China Selatan. Wilayah ini jalur pasokan energi. Jalur ini penting, terutama bagi China.

China adalah negara yang sejak dulu selalu dikhawatirkan oleh kekuatan negara-negara Sekutu; AS dan Inggris. Pertumbuhan ekonomi China yang makin melonjak dan diiringi dengan kebutuhan pasokan energi (terutama minyak) yang makin tinggi, membuat negara-negara Sekutu juga malah makin khawatir. Apalagi belum ditambah ketergantungan China atas minyak Timur Tengah juga makin tinggi (klik link China’s Global Quest for Energy).

Beberapa tahun terakhir ini, China telah berhasil mengembangkan angkatan lautnya (klik link1, link2). Malah China juga pernah latihan militer untuk penanganan perompak di wilayah Selat Malaka. Selain itu, China juga sempat memamerkan kemampuan kapal AL-nya keliling dunia melintasi area-area strategis jalur pasokan minyak. Ya…ini jelas membuat Washington khawatir.

Yang jelas, incaran negara Sekutu, terutama AS, yang khawatir terhadap China adalah pengamanan (atau penguasaan?) wilayah strategis, seperti Selat Malaka. Tak heran, AS sempat bolak-balik menawarkan diri untuk terlibat dalam pengamanan Selat Malaka, walau selalu ditolak oleh 3 Serangkai (Malaysia, Singapura, dan Indonesia). Bisa jadi Malaysia dan Singapura memang menolak rencana AS, tapi kita toh tidak tahu bagaimana dukungan peralatan AS atas (mungkin hingga pendanaan) terhadap persenjataan Malaysia dan Singapura. ya nggak? ya nggak? Nah…bisa jadi keinginan (nafsu bejat) Sekutu (terutama AS) menjawab atas “tantangan” China masuk lewat DCA Singapura-Indonesia 27 April 2007.

Ya…namanya juga China. Pinter! Karena merasa diawasi terus oleh negara Sekutu, akhirnya China punya akal. Dan ini juga membuat negara Sekutu gerah. China mendekati beberapa negara yang dilalui jalur pelayaran pasokan energi dari Timur Tengah, diantaranya yakni: Burma (Myanmar) dan Thailand.

oil6-cut-selatmalaka.jpgMenurut kabar yang beredar, China mendukung Burma dengan bantuan dana (termasuk persenjataan) demi pos-pos AL China di sekitar Teluk Bengal dan pengembangan pelabuhan Kyaukphu, Burma. Pelabuhan ini strategis bagi China, dikarenakan sangat dekat dengan daratan China. Kyaukphu adalah satu point dalam rute darat (pasokan minyak) yang berhubungan dengan kota Kunming, China.

Selain itu, sejak tahun 2004, China sedang merencanakan membangun pipa migas Sino-Myanmar di Burma. Pipa migas direncanakan sepanjang 775 mil menghubungkan Sittwe (Teluk Bengal) dengan Kunming (Propinsi Yunnan, China). Sungguh menakjubkan rencana tersebut.

sino-myanmar-pipeline.jpg

Terhadap Thailand, China sedang mempertimbangkan memberikan bantuan pendanaan sebesar 20 Miliar USD untuk pembangunan Kanal-Thai, yang memotong wilayah Kra Isthmus, Thailand. Jika kanal (terusan seperti terusan Panama atau Suez) ini selesai dibangun, China akan memperoleh fasilitas dari Thailand untuk membangun kilang, dermaga dan gudang untuk penyimpanan barang ekspor-impor. Selain itu, jika kanal ini selesai dibangun, jelas akan mengurangi frekuensi lalu lintas kapal tanker yang melintasi Selat Malaka, karena kanal ini akan menghubungkan Laut Andaman dan Teluk Thailand; dimana dari Teluk Thailand, kapal-kapal akan terus berlayar ke perairan China.

Proyek Kanal ini kabarnya sempat rada terhambat akibat gejolak politik di wilayah Thailand bagian selatan; berbatasan dengan Malaysia. Kenapa ya yang berbatasan dengan Malaysia selalu dituduh sarang teroris?…ya resiko bertetangga dengan piaraan Inggris…….

 

 

INDONESIA: UNTUNG ATAU BUNTUNG ?
“Kita punya ruang, Singapura punya uang dan teknologi,” ucap Menhan RI Juwono Sudarsono menanggapi pertanyaan wartawan tentang DCA; detikcom. Menurut saya (maaf, tanpa mengurangi rasa hormat ke pejabat negara) pernyataan tersebut seperti anak kecil. Sungguh memalukan jika sekelas Juwono Sudarsono menyatakan seperti itu. Padahal dia (jika tidak salah) juga sebagai pengajar S2 Ketahanan Nasional UI lho.

Sama saja dengan menyatakan bahwa kita mau saja diberi “mainan baru” dengan imbalan uang. Apa itu mainan baru? Mainan baru itu adalah akses untuk TNI ke persenjataan canggih milik Singapura sesuai isi DCA.

Kenapa kita cuman mau diberi seperti itu saja? Kita adalah pemilik wilayah, dan seharusnya memiliki bargaining position yang kuat. Kok cuman dikasih “mainan baru,” mau saja?!

Yang jelas, kebodohan kita sebenarnya juga bukan pada pemerintah (lewat Presiden dan Menhan) semata. Tetapi juga pada lembaga tinggi negara lainnya; seperti DPR. Coba jika kekuatan pertahanan kita dikuatkan (lewat anggaran) dan tidak tergantung pada 1 negara supplier persenjataan saja. Selain itu, coba jika lembaga dan industri strategis pertahanan kita (seperti BPPT, Pindad, Lapan, PT PAL, hingga PT DI) dikembangkan lebih lanjut. Bangsa dan negara ini tidak punya komitmen untuk membangun dirinya sendiri, malah amat sangat bangga jika bekerja sama / beraliansi dengan kekuatan asing. Sungguh memalukan!!

Dari semua uraian opini pribadi saya, sangat jelas DCA itu yang sangat diuntungkan dari sisi geopolitik dan geostrategi energi adalah Singapura!! Jika diuraikan secara singkat, keuntungan Singapura:

  1. Pengumpulan informasi untuk kepentingan intelijen Singapura sebagai piaraan Inggris, yang kemudian akan berguna di kemudian hari bagi kelompok mereka (FPDA dan AS). Pengumpulan informasi ini juga berguna jika terjadi konflik regional antara China dan AS di Asia Tenggara.
  2. Pengukuhan atas kekuatan militer mereka dalam pemantauan (yang diwakili melalui latihan bersama) atas pasokan gas (seperti kapal perang Amerika Serikat yang selalu memantau Selat Hormuz demi kepentingan energy security AS). TNI? Ampun…
  3. Jika pengukuhan dan pengamanan pipa gas (beserta pasokannya) telah dikukuhkan, pertumbuhan ekonomi Singapura juga akan meningkat (keuntungan ekonomi).

Sedangkan keuntungan bagi Indonesia adalah cuman dapat akses ke peralatan Singapura(saat latihan), pembangunan fasilitas tempur dan duit…..Istilahnya: dapat duit dan mainan baru…..kwak kwak kwak 🙂

Kepada para pejabat negara (bukan cuman pemerintah doang ya!)…sebagai saran, jika memang demi pengamanan Selat Malaka ataupun jalur pelayaran lainnya, mbok ya mikir yang dalem dulu tho! Jangan cuman mikir ke satu blok negara tertentu doang dong. Coba ajak AS, Malaysia, Singapura, Australia, China, Rusia, Jepang, Vietnam, dan Thailand untuk latihan bareng-bareng dalam 1 latihan akbar…..bisa nggak ya? jangan-jangan gak jadi latihan, tapi malah perang beneran…kwak kwak 🙂

(end)

 

 

10 Comments »

  1. aku share/embed yaaaaaaaaaa ……. iyaaaaaaaaaaaa

    Comment by gertak.or.id — July 5, 2007 @ 3:53 am | Reply

  2. Negara kita sebenarnya banyak orang pinternya tapi management pemerintahan yang tidak solid (rentan, mudah disuap, diadudomba) membuat kita sering dikibuli, ditipu, dicuri, dijajah negara lain. Ini sejak jaman kerajaan-kerajaan. Kita sendiri yang harus mengubah mental dan akhlak kita agar menjadi bangsa yang solid sehingga disegani negar-negara lain.
    Mengomentari tulisan di atas, mohon kepada Bapak-bapak “decision maker” amat sangat berhati-hati apabila membuat perjanjian dengan Singapura. Negara ini sangat licik dan tidak punya hati dan yang paling berbahaya bagi Indonesia adalah dia tahu oknum kita mudah disuap dan dia punya senjata untuk melakukan itu.
    Kumpulkan tim personnel brilliant dan anti suap dari segala unsur ditambah diplomat-diplomat ulung. Kita harus percaya diri kita bisa berdiri sama tinggi dengan negara lain. Tak ada satu negara asing pun yang boleh mendikte, memaksa, menyuap, mengganggu, mencuri, menghina ataupun ikut mengontrol negara kita.

    Comment by 070707 — July 14, 2007 @ 5:57 pm | Reply

  3. kita sebenarnya harus mendukung pemerintahan kita,agar bisa berjalan dengan baik dan tidak tertunda-tunda. kita sebagai warga negara yang memiliki wilayah yang cukup luas yang tidak mudah untuk dijaga. kita pasti membutuhkan tempat dan fasilitas yang sesuai dengan kondisi di dunia khususnya kondisi pertahanan di indonesia tercinta..
    Seharusnya kita menyetujui kerja sama antara indonesia dan singapura agar kita bisa belajar bersama dan bertukar pikiran mengenai strategi pertahanan negara.tapi intinya pemerintah indonesia pintar membaca pergerakan yang dilakukan negara asing yang mau berkerja sama.kita harus bisa memanfaatkan kesempatan ini (habis manis sepah dibuang)..!!itu baru namanya politik BOS..!!Saya yakin negara indonesia bisa lebih maju lagi,agar tidak di bodohi seperti sekarang ini..!

    Comment by dinda — July 20, 2007 @ 7:54 pm | Reply

  4. pemerintah seharusnya konsultasi dulu dengan pemda setempat. kalau seperti ini kan repot.nelayan mau melaut dimana? anak istrinya mau diberi makan apa?

    Comment by kieeeeeee — July 21, 2007 @ 12:10 pm | Reply

  5. HATI-HATI DIBELAKANG SINGAPURA ADA AMERIKA DAN ISRAEL(ZIONIS)MEREKA PUNYA MAKSUD TERTENTU.JANGAN SAMPAI NEGARA KITA DIJADIKAN KAMP MILITER MEREKA….WASPADALAH…WASPADALAH…….

    Comment by kieeeeeee — July 21, 2007 @ 12:18 pm | Reply

  6. semoga…semoga..semogaa… kita tetep dan makin merdeka…

    Comment by dedy — August 22, 2007 @ 9:55 am | Reply

  7. ok ni

    Comment by rio — August 29, 2007 @ 3:13 pm | Reply

  8. ya..emang dasar pejabat indonesia rentan ma duit…
    padahal setiap keputusan mereka sangat sensitif…

    sebentar lagi kalo tidak ada action apa2 terhadap kondisi pelabuhan kita yang dibilang ga aman ma negeri paman sam sana, bisa bisa kita makin ga berdaya karena tiap mo export import jadi 100 persen dikendalikan oleh kelurahan singapura.

    singapura yang sedari kecilnya (red: awal berdirinya) sudah dididik untuk mendikte perdagangan Indonesia dengan kata lain mengendalikan jalur perdagangan dunia-indonesia. Dan ini sudah di awali sejak jaman perdagangan arab-india ke Indonesia dahulu kala. Inggrislah dibelakang singapura….

    sekarang singapura yang makin bernafsu menguasai aset strategis, dari mulai telekomunikasi, pelabuhan, jalur udara, dan sekarang coba dikit2 untuk unjuk gigi kekuatan angkatannya…

    fiuh…cape mikirin negara ini….

    Comment by jack — September 10, 2007 @ 3:15 pm | Reply

  9. ya..ya..ya.. begitulah watak para pemimpin di negeri kita, pada “kemaruk” dan ga memprioritaskan rakyat. padahal jelas-jelas klo daerah yang digunakan buat latihan militer adalah daerah pemukiman warga. bayangkan klo selama 25 hari dalam sebulan warga ga bisa merasakan yang namanya keamanan karena ada orang asing yang lagi latihan perang. belum lagi klo ngebayangin gimana kondisi daerah itu nanti setelah 25 th?? wowww…limbah perang pasti banyak buangeeetttt!!! bisa jadi kita bakal mudah nemuin dinamit ato bom yang masih aktif pas lagi jalan2. iiihhh…atut..!!

    Comment by indah — April 12, 2008 @ 1:24 pm | Reply

  10. emang tanah air qt arena perang enak aja..latian perang di Singapor ja skalian agresi ksana..biar mrk tao air tenang g slmx dangkal..

    Comment by gadiz — January 24, 2009 @ 5:16 am | Reply


RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: