Geopolitik Energi

April 12, 2007

MINYAK DAN UMAT ISLAM

Kuasai dan Amankan!

Pasal 33 UUD 1945 (asli)

Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan.

Cabang-cabang produksi yang penting bagi Negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh Negara.

Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

 

Pasal-pasal tersebut merupakan dasar geopolitik dan geostrategis bangsa Indonesia yang (lagi-lagi takdir) berpenduduk mayoritas muslim. Sektor migas harus dianggap layaknya kebutuhan bahan pokok. Sektor migas merupakan sektor strategis kehidupan rakyat. Sektor strategis harus dikuasai negara.

 

Liberalisasi yang tak terkontrol di sektor migas, dan menghilangkan peran negara, mengakibatkan hilangnya kekayaan alam yang seharusnya digunakan atau dimanfaatkan rakyat di Indonesia. Bukan malah cuman dapat duitnya semata.

 

Penguasaan negara atas sektor minyak bukan berarti menolak investasi swasta nasional ataupun asing. Tapi, berapa jauh negara mengatur dan menerima porsi raw material dan uang royalti yang menguntungkan bagi bangsa, dan digunakan untuk bangsa sendiri. Kunci dari perubahan menuju ke arah itu terletak pada revisi undang-undang yang mengatur sektor migas dan revisi kontrak migas.

 

Energi adalah pengerak perekonomian. Wajar jika negara-negara maju sangat “rakus” untuk mengamankan pasokan energi dalam negerinya. Kapankah kita mempunyai kesadaran seperti itu? Jangan menjadi negara yang memalukan, apalagi negara ini mayoritas adalah muslim. Jika suatu saat nanti dikuasai kembali oleh negara, satu hal yang tak boleh terlupakan: penindakan korupsi yang menggerogoti ekonomi kita sejak dulu.

oil-demand-2020.jpgoil-demand-2020.jpg

Jika elit negara Indonesia (yang notabene kebanyakan muslim) tak sigap dengan memahami apa yang sebenarnya terjadi. Kebutuhan energi Indonesia akan terlibas oleh kebutuhan energi negara-negara maju. Apalagi pada tahun 2020 yang akan datang diproyeksikan kebutuhan energi minyak akan dibutuhkan di banyak negara-negara maju (lihat grafis).

 

 

Jadi, intinya, persoalan di dunia saat ini adalah penguasaan sektor energi untuk keamanan roda ekonomi negara di dunia. Intinya, persoalan saat ini bukanlah masalah agama. Bukan pula soal Islam. Bukan soal teroris (terorisme kerjaan intelijen pro asing!). Tapi, soal energi! Bukan soal duit dari jualan sumber energi, tapi soal barang mentah dari sumber energinya!!

(END)

Artikel lain yang terkait (klik aja):

 

Advertisements

9 Comments »

  1. Bagus anilis ini, aku suka. beMP!

    Comment by beMuslim — April 22, 2007 @ 5:46 pm | Reply

  2. saya kink ke MP ya….

    Comment by beMuslim — April 22, 2007 @ 5:48 pm | Reply

  3. Menarik menghubungkan minyak dng Islam,
    Tetapi perlu dilihat secara kronologis.
    Minyak menjadi idola di dunia ini sejak awal 19 saja. Sebelumnya, minyak bumi bukanlah hal yg dianggap berharga. Minyak tidak diperebutkan sebagai barang langka berharga sebelum abad 19. Sedangkan Islam yg lebih banyak dikenal) ada sejak abad ke 7. Itupun terlalu cenderung ke Arab dan sekitarnya. Menghubungkan Islam dengan minyak jangan terlalu buru-buru bahwa Islam berkonotasi Arab juga jangan ke minyak. Nanti minyak habis, Islamnya mau kemana lagi ?
    Mempelajari Islam pun harus dimulai sejak awal. Sejak Adam (mboh kapan Nabi Adam ini muncul). Bahkan kalau percaya Islam itu rahmatan lil alamin, maka umat Islam harus mempelajari seluruh alam ini.
    Sejak sebelum BIGBANG !

    Comment by Rovicky — May 6, 2007 @ 4:33 pm | Reply

  4. Coba tengok tulisan yg bisa membahayakan akidah ini :

     Takdir Umat Islam
    Saya sempat bertemu seorang analis industri migas. Dia sempat berseloroh, “Dimana ada umat Islam sujud, di situ ada sumber energi (minyak) yang sangat luar biasa.” Kali pertama mendengar pernyataan tersebut, saya belum bisa memahami apa yang dimaksud oleh teman saya tersebut. Apa maksud dari teman saya itu?

    Apa iya kalau bersujud maka akan ada minyak ?
    Karena takdir atau karena usaha (ikhtiar)?

    Comment by Rovicky — May 7, 2007 @ 8:26 am | Reply

  5. Maksudku, takdir itu kan salah satu akidah dalam Islam. Masuk dalam rukun iman (keyakinan). Lah kalau menganggap dimana ada minyak disitu ada minyak dan itu adalah takdir saya kawatir aja malah menjadikan distribusi Islam hanya utk daerah minyak.

    Ada satu contoh menarik adalah minyak yang di Gulf of Mexico ini dipercaya jumlahnya suangat buanyak. Namun ini lebih disebabkan oleh buanyaknya penelitian (ikhtiar atau usaha) dalam eksplorasi.

    Minyak di jazirah Arab itu baru muncul setelah sekitar tahun 1940-an. Jauuh dibelakang minyak di Indonesia diketemukan di Talaga Said (Sumatra Utara) tahun 1890-an. Bahkan sbelumnya Jazirah arab ini justru daerah tandus. Nah kalau anda lihat jumlah jamaah haji yg ke Makkah dari tahun ke tahun, maka anda bisa cerita banyak. Sayangnya aku lupa dimana lihatnya. Bukuku banyak di Jkt. Tapi sepintas terlihat adanya peningkatan jumlah jamaah haji beberapa tahun setelah 1950-an . Ntah karena pasca PDII atau karena minyak ? Yang pasti PDII bukan perebutan soal minyak 🙂

    Comment by Rovicky — May 8, 2007 @ 10:41 am | Reply

  6. Assalamualaikum wr wb,

    Tulisan dan analisis bagus, membangun kesadaran mengenai pentingnya penguasaan dan permanfaatan sumber daya sendiri.

    Saya ingin kasih komentar sedikit tentang Indonesia.

    1. Indonesia –saya kira– tidak bisa dikategorikan sebagai memiliki “kekayaan tamnbang yang luar biasa, termasuk migas” (h. 4). Dibanding banyak negara-negara lain di dunia, kekayaan migas Indonesia kecil; bahkan sangat kecil bila kita mau membandingkannya per kapita. Jumlah penduduk kita terlalu besar, sehingga kekayaan yang “tidak besar-besar banget” itu menjadi kelihatan lebih kecil lagi. Anda sendiri sudah menunjukkan statistik bahwa Indonesia sebenarnya tidak kaya, bukan? (h. 3 “geatest oil reserves by country).

    2. Indonesia BUKAN pengekspr gas terbesar di dunia (h. 4). Kata statistik: Indonesia adalah pengekspor LNG (liquefied natural gas) TERBESAR di dunia, meskipun posisi ini akan segera merosot.
    Indonesia juga termasuk dalam jajaran pengekspor LPG (liquefied petroleum gas) yang cukup terbesar di dunia, tetapi hal ini pun akan segera berubah akibat maksud pemerintah menggantikan minyak tanah dengan LPG. Indonesia segera menjadi pengimpor LPG yang lumayan besar.

    Kata statistik lagi: Kanada mengekspor GAS (bumi) jauh lebih besar daripada Indonesia. Demikian pula, Rusia, Norwegia, Aljazair mengekspor gas yang lebih besar daripada yang dilakukan Indonesia.

    LNG (dan LPG) hanya merupakan bagian (kecil) saja dari yang namanya gas bumi. Apakah Indonesia akan menjadi pengekspor GTL (gas to liquid)? Lalu akan diapakan kekeyaaan NGL (natural gas liquid) Indonesia nanti? Wah, ini mungkin pertanyaan relevan soal masa depan gas Indonesia.

    Kekayaan gas bumi bumi Indonesia juga sebenanrnya “tidak besar-besar amat” apalagi bila di hitung per kapita. Bagaimanapun, itu anugerah yang harus kita syukuri dan manfaatkan (sendiri) dengan baik.

    Yang terjadi dengan Indonesia –dalam pandangan saya– adalah: kekayaan yang “tidak seberapa” itu masih lebih banyak digunakan untuk mensejahterakan negeri-negeri lain (ekspor) dibandingkan untuk memperkokoh diri sendiri. Membangun ketangguhan untuk memanfaatkan kekeyaan itu sebagai “driver” bagi pertumbuhan ekonomi dan kemampuan nasional adalah agenda yang -kita semua– harus sukseskan. Ini gampang diucapkan diucapkan, tapi sebenarnya butuh banyak tenaga untuk mewujudkannya.

    Sekian, saya yakin statistik yang saya sampaikan bisa dikonfirmasikan ke banyak sumber dan “expert” (atau Anda hanya “lupa” saja waktu menulis artikel itu).

    Selamat bekerja terus dan salam,
    Nugroho

    Comment by Nugroho — May 17, 2007 @ 7:20 am | Reply

  7. Mari, kita2 yang mengerti hal ini, berlomba-lomba menjadi pemimpin negeri ini dan mari kita keluar sebagai salah satu bangsa yang disegani..!!

    Comment by stealth_assassin — September 15, 2007 @ 8:53 am | Reply

  8. oh we didn’t care,we made it very clea. Anandi Hristina.

    Comment by Anandi Hristina — September 19, 2007 @ 11:16 pm | Reply

  9. betul2 kebetulan yang aneh dan menyenangkan, dimana banyak muslim sujud disitu ada banyak kekayaan alam. berdasarkan fakta yang ada, saya setuju. tapi, bukankah sekarang saatnya kita lebih banyak bekerja daripada berbicara, mari kita sambut akhir zaman dengan segala upaya maksimal kita. thx.

    Comment by kadaliztah — July 5, 2008 @ 5:03 pm | Reply


RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: