Geopolitik Energi

April 12, 2007

MINYAK DAN UMAT ISLAM

Demi Energi (Minyak)

Sangat sulit untuk melepas ketergantungan atas minyak bumi. Tak heran, pada bulan Juni 2005, dunia terkejut dengan harga minyak yang hampir mencapai 60 USD per Barrel. Indonesia pun kena imbasnya.

 

Setelah terlihat kelangkaan BBM di berbagai daerah, Pemerintah pun sempat terlihat panik dan menggelar rapat kabinet terbatas pada 23 Juni 2005. Akibat lonjakan harga minyak dunia saat itu, pemerintah juga sempat menambah dan mengucurkan dana talangan ke Pertamina sebesar 9, 3 Triliun Rupiah.

 

Kepanikan pemerintah saat itu sebenarnya bisa diantisipasi, jika para elit negara ini sadar begitu pentingnya sektor energi sejak dulu, terutama minyak bumi. Secara kasat mata, kesadaran tinggi atas pentingnya minyak demi kehidupan sebuah negara, telah lama dimiliki oleh negara-negara maju. Indonesia? Bisa dikatakan elit negara kita baru belajar. Alasan klasik: better late than never.

 

Sebaiknya para elit negara ini belajar kesadaran politik energi dari Amerika Serikat. Amerika Serikat hingga kini pun masih mempertahankan keyakinan politik bahwa minyak adalah segalanya; energy security. Saat ini, Paman Sam menduduki ranking pertama dunia dalam top oil importers. Menuju ke tahun 2025, konsumsi minyak Amerika Serikat bersama China diproyeksi tertinggi di dunia. Tak heran, hingga kini Amerika Serikat masih bersikeras untuk bertahan di Irak. Irak memang tercatat memiliki cadangan terbukti minyak terbesar di dunia sekitar 10 persen. Posisi Irak di bawah Arab Saudi yang memiliki 26 persen.

gotoil.jpg

Paman Sam tetap bertahan di Irak demi mendapat pasokan aman minyak untuk konsumsi dalam negeri AS. Tak heran pula, sebelum menguasai Irak pun, posisi pasukan AS di Timur Tengah selalu berdekatan fasilitas minyak (lihat gambar). Itu semua demi keamanan pasokan minyak dalam negeri AS. Siapa yang menguasai minyak, dia menguasai dunia. Kenapa Amerika Serikat sangat membutuhkan minyak? Jawabannya cuman satu: untuk memenuhi kebutuhan energy yang digunakan untuk menjaga stabilitas ekonomi AS, dan dominasinya di dunia.

caspian-middle-east_oil-military-presence.jpg

Belajar dari AS, sudah waktunya elit negara bisa memproyeksikan, melindungi, dan mengamankan sumber dan pasokan kebutuhan minyak dalam negeri untuk masa sekarang dan masa depan. Kebutuhan minyak dalam negeri paling besar, secara berurutan terletak pada transportasi, industri, rumah tangga, dan pembangkit listrik. Elit negara harus berpikir demi kepentingan nasional kita sendiri. Jika elit negara berpikir untuk menekan kebutuhan minyak dalam negeri, itu berarti sama dengan menekan pertumbuhan ekonomi negara itu sendiri. Sebuah hal yang kontrakdiktif dengan wacana peningkatan pertumbuhan ekonomi yang dikumandangkan oleh elit negara selama ini. Tengoklah negara AS, negara yang paling boros se-dunia dalam konsumsi energi.

 

Hingga kini elit negara masih menerapkan pola berpikir bahwa lebih baik pendapatan negara berasal penjualan dari pola bagi hasil minyak dan gas (ataupun menjual ke luar), daripada menerima porsi besar raw material atau depositnya (minyak atau gas) itu sendiri. Sudah waktunya pula pola pikir seperti itu dibalik.

 

 

Persoalan energi (minyak) sebenarnya bukanlah hanya permasalahan uang, tapi bagaimana memperoleh porsi raw materialnya (atau depositnya) dan mengamankan pasokan minyak untuk dalam negeri itu sendiri (domestic market). It’s not just about the money, Sir. Sudah waktunya kita menguasai emas hitam ketimbang tergiur uang hasil penjualan emas hitam, dengan tanpa mengganggu arus investasi.

Advertisements

9 Comments »

  1. Bagus anilis ini, aku suka. beMP!

    Comment by beMuslim — April 22, 2007 @ 5:46 pm | Reply

  2. saya kink ke MP ya….

    Comment by beMuslim — April 22, 2007 @ 5:48 pm | Reply

  3. Menarik menghubungkan minyak dng Islam,
    Tetapi perlu dilihat secara kronologis.
    Minyak menjadi idola di dunia ini sejak awal 19 saja. Sebelumnya, minyak bumi bukanlah hal yg dianggap berharga. Minyak tidak diperebutkan sebagai barang langka berharga sebelum abad 19. Sedangkan Islam yg lebih banyak dikenal) ada sejak abad ke 7. Itupun terlalu cenderung ke Arab dan sekitarnya. Menghubungkan Islam dengan minyak jangan terlalu buru-buru bahwa Islam berkonotasi Arab juga jangan ke minyak. Nanti minyak habis, Islamnya mau kemana lagi ?
    Mempelajari Islam pun harus dimulai sejak awal. Sejak Adam (mboh kapan Nabi Adam ini muncul). Bahkan kalau percaya Islam itu rahmatan lil alamin, maka umat Islam harus mempelajari seluruh alam ini.
    Sejak sebelum BIGBANG !

    Comment by Rovicky — May 6, 2007 @ 4:33 pm | Reply

  4. Coba tengok tulisan yg bisa membahayakan akidah ini :

     Takdir Umat Islam
    Saya sempat bertemu seorang analis industri migas. Dia sempat berseloroh, “Dimana ada umat Islam sujud, di situ ada sumber energi (minyak) yang sangat luar biasa.” Kali pertama mendengar pernyataan tersebut, saya belum bisa memahami apa yang dimaksud oleh teman saya tersebut. Apa maksud dari teman saya itu?

    Apa iya kalau bersujud maka akan ada minyak ?
    Karena takdir atau karena usaha (ikhtiar)?

    Comment by Rovicky — May 7, 2007 @ 8:26 am | Reply

  5. Maksudku, takdir itu kan salah satu akidah dalam Islam. Masuk dalam rukun iman (keyakinan). Lah kalau menganggap dimana ada minyak disitu ada minyak dan itu adalah takdir saya kawatir aja malah menjadikan distribusi Islam hanya utk daerah minyak.

    Ada satu contoh menarik adalah minyak yang di Gulf of Mexico ini dipercaya jumlahnya suangat buanyak. Namun ini lebih disebabkan oleh buanyaknya penelitian (ikhtiar atau usaha) dalam eksplorasi.

    Minyak di jazirah Arab itu baru muncul setelah sekitar tahun 1940-an. Jauuh dibelakang minyak di Indonesia diketemukan di Talaga Said (Sumatra Utara) tahun 1890-an. Bahkan sbelumnya Jazirah arab ini justru daerah tandus. Nah kalau anda lihat jumlah jamaah haji yg ke Makkah dari tahun ke tahun, maka anda bisa cerita banyak. Sayangnya aku lupa dimana lihatnya. Bukuku banyak di Jkt. Tapi sepintas terlihat adanya peningkatan jumlah jamaah haji beberapa tahun setelah 1950-an . Ntah karena pasca PDII atau karena minyak ? Yang pasti PDII bukan perebutan soal minyak 🙂

    Comment by Rovicky — May 8, 2007 @ 10:41 am | Reply

  6. Assalamualaikum wr wb,

    Tulisan dan analisis bagus, membangun kesadaran mengenai pentingnya penguasaan dan permanfaatan sumber daya sendiri.

    Saya ingin kasih komentar sedikit tentang Indonesia.

    1. Indonesia –saya kira– tidak bisa dikategorikan sebagai memiliki “kekayaan tamnbang yang luar biasa, termasuk migas” (h. 4). Dibanding banyak negara-negara lain di dunia, kekayaan migas Indonesia kecil; bahkan sangat kecil bila kita mau membandingkannya per kapita. Jumlah penduduk kita terlalu besar, sehingga kekayaan yang “tidak besar-besar banget” itu menjadi kelihatan lebih kecil lagi. Anda sendiri sudah menunjukkan statistik bahwa Indonesia sebenarnya tidak kaya, bukan? (h. 3 “geatest oil reserves by country).

    2. Indonesia BUKAN pengekspr gas terbesar di dunia (h. 4). Kata statistik: Indonesia adalah pengekspor LNG (liquefied natural gas) TERBESAR di dunia, meskipun posisi ini akan segera merosot.
    Indonesia juga termasuk dalam jajaran pengekspor LPG (liquefied petroleum gas) yang cukup terbesar di dunia, tetapi hal ini pun akan segera berubah akibat maksud pemerintah menggantikan minyak tanah dengan LPG. Indonesia segera menjadi pengimpor LPG yang lumayan besar.

    Kata statistik lagi: Kanada mengekspor GAS (bumi) jauh lebih besar daripada Indonesia. Demikian pula, Rusia, Norwegia, Aljazair mengekspor gas yang lebih besar daripada yang dilakukan Indonesia.

    LNG (dan LPG) hanya merupakan bagian (kecil) saja dari yang namanya gas bumi. Apakah Indonesia akan menjadi pengekspor GTL (gas to liquid)? Lalu akan diapakan kekeyaaan NGL (natural gas liquid) Indonesia nanti? Wah, ini mungkin pertanyaan relevan soal masa depan gas Indonesia.

    Kekayaan gas bumi bumi Indonesia juga sebenanrnya “tidak besar-besar amat” apalagi bila di hitung per kapita. Bagaimanapun, itu anugerah yang harus kita syukuri dan manfaatkan (sendiri) dengan baik.

    Yang terjadi dengan Indonesia –dalam pandangan saya– adalah: kekayaan yang “tidak seberapa” itu masih lebih banyak digunakan untuk mensejahterakan negeri-negeri lain (ekspor) dibandingkan untuk memperkokoh diri sendiri. Membangun ketangguhan untuk memanfaatkan kekeyaan itu sebagai “driver” bagi pertumbuhan ekonomi dan kemampuan nasional adalah agenda yang -kita semua– harus sukseskan. Ini gampang diucapkan diucapkan, tapi sebenarnya butuh banyak tenaga untuk mewujudkannya.

    Sekian, saya yakin statistik yang saya sampaikan bisa dikonfirmasikan ke banyak sumber dan “expert” (atau Anda hanya “lupa” saja waktu menulis artikel itu).

    Selamat bekerja terus dan salam,
    Nugroho

    Comment by Nugroho — May 17, 2007 @ 7:20 am | Reply

  7. Mari, kita2 yang mengerti hal ini, berlomba-lomba menjadi pemimpin negeri ini dan mari kita keluar sebagai salah satu bangsa yang disegani..!!

    Comment by stealth_assassin — September 15, 2007 @ 8:53 am | Reply

  8. oh we didn’t care,we made it very clea. Anandi Hristina.

    Comment by Anandi Hristina — September 19, 2007 @ 11:16 pm | Reply

  9. betul2 kebetulan yang aneh dan menyenangkan, dimana banyak muslim sujud disitu ada banyak kekayaan alam. berdasarkan fakta yang ada, saya setuju. tapi, bukankah sekarang saatnya kita lebih banyak bekerja daripada berbicara, mari kita sambut akhir zaman dengan segala upaya maksimal kita. thx.

    Comment by kadaliztah — July 5, 2008 @ 5:03 pm | Reply


RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: