Geopolitik Energi

September 18, 2007

KEPENTINGAN GEOSTRATEGIS UE DI EURASIA

Filed under: Islam — merdeka1978 @ 4:44 pm
Tags: , , , , , , , ,

Kepentingan Geostrategis UE di Eurasia

Leonard Hutabarat

Sejak secara bertahap menjadi pemain utama di kawasan Timur Tengah, Uni Eropa tampaknya tidak akan menempuh cara AS yang memberi dukungan bagi Israel. Sebaliknya, UE tetap menjaga hubungan dengan negara-negara Arab guna menjaga stabilitas perbatasan dan suplai minyaknya. UE memerlukan stabilitas kawasan minyak Eurasia untuk kebutuhan pasokan energinya.

Sejak tahun 2000, 76 persen pasokan energi UE tergantung dari suplai eksternal. Suplai ini termasuk 20 persen impor minyak dunia untuk UE, konsumsi ini lebih kecil dibandingkan dengan AS yang mencapai 26 persen. Kondisi ini menyebabkan UE sangat rentan terkena dampak krisis ekonomi dunia yang ditimbulkan harga minyak yang meroket ataupun kelangkaan persediaan minyak.

Dalam jangka panjang, gas alam akan menggantikan sumber energi minyak Eropa dan diperkirakan akan mencapai 70 persen suplai energi tahun 2020. Dengan mengimpor 40 persen gas alam dari Rusia tahun 2020, UE akan sangat bergantung pada Rusia. Namun di sisi lain, UE juga perlu mencari pengimbang dependensi tersebut dari kawasan Eurasia yang lain.

Eropa akan membutuhkan minyak dari Eurasia, demikian pula halnya AS. AS lebih bergantung kepada minyak daripada Eropa. Sejak 2002 saja AS mengimpor 25 persen minyaknya dari Timur Tengah, termasuk Irak yang memiliki setengah cadangan minyak dunia. Jelas dalam hal ini akan terjadi kompetisi ketat dalam great game politik minyak dunia. Sejarah Timur Tengah dan Eurasia tidak lepas dari pasang surut great game guna mengamankan dan menjaga stabilitas harga serta suplai minyak dunia. Baik AS maupun Eropa melakukan hal yang sama pada masa lalu.

Beberapa tahun ke depan, Eropa dan AS akan mengembangkan strategi yang benar-benar berbeda untuk mengamankan suplai minyaknya dari kawasan konflik Timur Tengah. Keduanya akan berbeda pendapat bagaimana arus energi akan mengalir dari Kaspia dan kawasan migas di Siberia barat, termasuk kebijakan yang berbeda terhadap negara-negara Kaukasus dan Rusia.

Dengan menghindari kawasan selatan, yaitu Timur Tengah yang penuh konflik, akan ada strategi suplai minyak yang baru, terutama yang melalui ladang baru di Kaspia dan Kazakstan. Jalur pipa minyak yang baru dari Asia Tengah melalui Rusia, termasuk pelabuhan Rusia di Novorossiysk, menjadi jalur suplai yang penting bagi Eropa dan AS. Ini pilihan yang lebih mungkin daripada membangun jalur pipa dari Asia Tengah menuju Afganistan dan Pakistan.

 

Aliansi Eropa-Rusia

Jika Eropa dan AS membangun strategi energi masa depannya dengan upaya diversivikasi suplai energi dan minyaknya melalui northern strategy, hubungan baik antara Barat dan Rusia memiliki urgensi tersendiri. Namun, Eropa tidak akan menunjukkan hal tersebut secara gamblang ketika berkaitan dengan Rusia. Eropa dan Washington telah mulai melihat Rusia dari sudut pandang yang berbeda saat ini.

Sejak berakhirnya Perang Dingin, AS telah memiliki hubungan yang ambisius dengan Rusia. Washington melihat Rusia sebagai sumber energi penting, terutama dalam pengawasan senjata seperti memastikan keamanan nuklir dan tidak jatuhnya senjata pemusnah massal ke tangan teroris. Setelah peristiwa 11 September, meskipun Rusia mendukung Washington dalam kampanye antiterorisme di Afganistan, Kremlin belum mendapat perlakuan yang dianggap baik dari AS. Hingga masuknya wild west capitalism dari “mafiosi economics” telah menyebabkan rezim yang semula pro-AS di Kremlin semakin jauh dan akhirnya semakin jelas dengan keputusan strategis Presiden Putin untuk bersama Perancis dan Jerman dalam krisis Irak.

Kunjungan Presiden Putin ke Berlin, dalam dukungannya terhadap Poros Berlin-Paris menghadapi krisis Irak, menunjukkan simbol pergeseran dan adanya kesamaan kepentingan antara Eropa Barat dan Rusia.

Aliansi Eropa-Rusia telah kelihatan sejak hancurnya Tembok Berlin. Bahkan, selama Perang Dingin, Washington sering kali tidak puas dengan upaya Eropa membuka diri terhadap Moskwa. AS skeptis dengan “Ostpolitik”-nya Kanselir Jerman Willy Brandt dan menolak diplomasi Perancis mengembangkan relasi dengan Kremlin.

Pada era Reagan, Washington dan Bonn juga berselisih dalam hal jalur pipa minyak yang menghubungkan Siberia barat dan Eropa Barat. Kontroversi ini berlanjut pada dekade 1990-an berkaitan dengan perluasan NATO, Washington mendesak NATO hingga perbatasan Rusia dan para pemimpin Eropa berupaya mengakomodasi kekhawatiran Rusia.

 

Revolusi geostrategis

Apa yang terjadi antara “Core Europe” dan Rusia dalam isu Irak mengingatkan akan adanya revolusi dalam aliansi geostrategis antara UE dan Rusia berdasarkan kepentingan bersama. Hal ini sebenarnya telah terjalin sejak 2002, di mana gas alam Rusia dan suplai energi ke Eropa Barat, sebaliknya akses Rusia semakin meningkat ke pasar Eropa. Konsep “energi untuk pasar” ini masuk akal karena lebih dari separuh perdagangan Rusia dengan Eropa, sementara Eropa memperoleh seperlima energinya dari Rusia. Perusahaan-perusahaan UE adalah investor luar negeri terbesar dalam ekonomi Rusia. Namun selain energi dan pasar, UE dan Rusia juga mempunyai kepentingan keamanan bersama, setidaknya untuk membendung dampak radikalisasi Islam ke selatan.

Aliansi UE-Rusia mungkin saja dapat menggantikan NATO sebagai sistem keamanan Eropa yang utama. Sementara itu, Rusia dapat bergabung dengan NATO. Sejak 2002, Kanselir Schroeder dan PM Blair telah mengambil langkah mengembangkan relasi institusional yang baru dan lebih erat antara Rusia dan NATO. Dalam jangka panjang, tidak mustahil pula Rusia bahkan dapat bergabung dengan UE.

Hubungan strategis yang baru UE-Rusia tersebut tidak akan disambut hangat Washington. Hal ini akan menyebabkan kekhawatiran “skenario Brzezinski” terwujud, yaitu dua kekuatan Eurasia bersatu untuk memarjinalisasi AS, atau bahkan menyingkirkan AS di kawasan Eropa. Apa yang disebut dengan geographic proximity dan symbiotic relationship dari energi Rusia dan pasar Eropa menjadi potensi aliansi EU-Rusia yang sama pentingnya bagi Eropa Barat dengan aliansi NATO.

Dengan memasukkan Rusia ke orbit Eropa, UE akan lebih memarjinalisasi AS di Eurasia. Bahkan secara radikal akan membentuk peta baru politik dunia. Jika AS kehilangan pijakannya di kawasan Eurasia, posisi AS sebagai superpower global akan semakin melemah. Centre of gravity politik dunia akan bergeser dari dominasi Washington secara global bergerak menuju Eurasia, dengan kekuatan terbesarnya adalah Uni Eropa.

Leonard Hutabarat Pemerhati Masalah Internasional, Alumnus Institut d’Etudes Politiques (IEP) de Paris

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0709/18/opini/3853957.htm

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

The Rubric Theme. Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: